"Korban dibunuh oleh massa persis di hadapan istrinya waktu itu terbangun karena ada ramai-ramai, " ujar Kasat Reskrim Polres Malang AKP Sunardi Riyono kepada detiksurabaya.com di Mapolres Malang, Selasa (29/4/2008).
Tragisnya lagi, Indayati sempat menjadi sasaran massa untuk memaksa keluar rumah menyaksikan sang suami dibantai hingga nyawanya melayang di halaman rumahnya, Dusun Bonangan, Desa Sumberkradenan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.
Padahal, saat ini Tutik tengah mengandung anak kedua dari korban. Peristiwa ini membuat wanita ini syok hingga akhirnya jatuh pingsan.
"Saksi mata yang juga istri korban dipaksa untuk keluar rumah oleh massa. Padahal tengah hamil tua," imbuh Sunardi.
Aksi massa yang ditengarai bertindak anarkis ini terjadi setelah geram menilai korban sebagai preman selama ini meresahkan warga.
Warga yang menganggap korban selama ini sering kali mencuri barang-barang milik masyarakat sekitar memilih untuk menghakiminya.
"Kami sayangkan tindakan main hakim sendiri yang dilakukan oleh warga. Jika memang korban berbuat seperti itu lebih baik melapor ke polisi," tegas Sunardi.
Daimun (36), tewas menggenaskan di halaman rumahnya di Dusun Bonangan, Desa Sumberkradenan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Selasa (29/4/2005) dini hari.
Lelaki yang diduga berprofesi sebagai preman ini meregang nyawa setelah dihajar ramai-ramai oleh warga.Korban tewas dengan luka parah di sekujur tubuh, terutama bagian kepala remuk akibat pukulan benda tumpul.
Diduga puluhan massa yang masih warga desa setempat mendatangi rumah korban dengan bersenjatakan pentungan kayu ini dilakukan karena menyimpan dendam kepada korban. (gik/gik)










































