Ribuan Warga Jember Minta Hutan Dijadikan Lahan Pertanian

Ribuan Warga Jember Minta Hutan Dijadikan Lahan Pertanian

- detikNews
Senin, 28 Apr 2008 15:45 WIB
Jember - Ketika pemerintah menggelontor uang milyaran rupiah untuk merehabilitasi hutan lindung yang gundul, sebaliknya ribuan orang di Kabupaten Jember malah meminta tanah di hutan lindung untuk dimiliki.

Sekitar 2.000 warga yang mengaku dari pinggiran hutan Baban Silosanen Kecamatan Silo dan Mandigu Kecamatan Tempurejo, Senin (28/4/2008) berunjuk rasa. Mereka menuntut agar para penggarap tanah hutan lindung diberi hak untuk memiliki lahan hutan lindung guna dijadikan lahan pertanian.

Demo yang dimotori oleh salah satu pengasuh pondok pesantren Asri, Jember, HM Ayyub Saiful Ridjal, itu dimulai dari alun-alun Kabupaten Jember. Di tempat itu, massa dikumpulkan untuk menuju kantor DPRD Jember. Hingga pukul 14.30 WIB, massa masih bertahan di gedung wakil rakyat dan rencananya akan dilanjuti di kantor Perhutani dan Mapolres Jember.

Demo itu diikuti oleh beberapa elemen LSM, dan warga dari kawasan Baban Silosanen dan Mandigu. Dalam orasinya mereka meminta agar tanah Baban Silosanen dan Mandigu diberikan pada rakyat penggarap. Sebab, rakyat merasa telah menggarap lahan tersebut, dan lahan itu bisa disertifikasi untuk menjadi milik pribadi meski di lahan negara yang diwakili Perhutani.

"Rakyat sudah bertahun-tahun menggarap. Saat ini kami malah diadu domba oleh Adm Perhutani sehingga solidaritas antar petani rusak," kata Saiful Ridjal. Karenanya, para pendemo itu meminta agar administratur Perhutani Jember, Taufik Setyadi dicopot dari jabatannya.

Para pendemo juga membawa beberapa miniatur senapan. Dan mereka juga meminta agar ditembak di alun-alun kota Jember karena dituduh menjarah hutan.
Sebelumnya Bupati Jember, MZA Djalal memang menginstruksikan untuk tembak ditembak bagi para penjarah hutan lindung.

Hutan Baban Silosanen merupakan hutan lindung yang menjadi salah satu ajang pembalakan liar di tahun 1997. Akibatnya sekitar 6.000 hektare hutan lindung di kawasan tersebut rusak dan gundul. Karena belum direhabilitasi, beberapa tahun kemudian lahan tersebut digarap oleh beberapa orang dan dijadikan lahan pertanian. Akibatnya sejauh mata memandang di puncak hutan Baban Silosanen, hanya tanaman jagung yang terlihat dan bukan tanaman hutan.

Sejak tahun 2007 lalu, pihak Perhutani melakukan program rehabilitasi hutan dengan menanam tanaman keras di lahan tersebut, yang melibatkan para penggarap hutan lindung. Pihak perhutani memperbolehkan para penggarap menanam tanaman semusim (jagung dan padi), namun di sela-sela tanaman itu para penggarap diharuskan menanam tanaman keras seperti sengon, durian, petai, alpukat, atau vanili.

Beberapa bulan lalu, pihak Perhutani Jember melaporkan salah seorang penggarap karena merusak tanaman hutan milik Perhutani. Penggarap itu dinilai tidak mau menanam tanaman keras untuk merehabilitasi hutan yang gundul. Orang yang dilaporkan itu kemudian ditangkap polisi dan mengundang protes dari warga yang hari ini berdemo.

"Penangkapan itu tindakan represif dari oknum Perhutani," tegas Ridjal. (bdh/bdh)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini