Aksi ini dilakukan sebagai kekhawitaran akan hilangnya peninggalan sejarah. Selain itu, aksi ini dipengaruhi rasa kegelisahan jika sampai Ndalem Gebang dijual, karena di tempat tersebut adalah tempat spirit kebangsaan dibangun.
"Ini aksi spontan. Ini muncul dari rasa kekhawatiran dan juga rasa kegelisahan jika kita kehilangan tempat pengkanderan spirit kebangsaan," kata Andreas Edison Kordinator Deklarasi Forum Penyelemat Istana Gebang kepada detiksurabaya.com, Minggu (27/4/2008).
Kalau dijual ke pihak swasta kata Andreas, rasanya sayang sekali. Alangkah lebih baik jika Ndalem Gebang diurus oleh pemerintah dan juga rakyat. Action pertama yang mereka lakukan adalah melakukan pengumpulan dana.
"Aksi pertama adalah mengumpulkan dana dari rakyat seluruh Indonesia untuk membeli Ndalem Gebang. Menggumpulkan secara patungan dan tercatat berapapun sumbangannya," tutur Andreas.
Menurutnya, dari aksi penggalangan dana, saat ini sudah terkumpul Rp 10 juta. Gerakan pengumpulan dana semacam ini akan mereka lakukan di seluruh Indonesia dan juga pada Haul Bung Karno setiap tanggal 20 Juni.
"Sumbangan ini dari tukang sayur, becak,pembantu rumah tangga sampai ke pedagang ayam dan daging. Dana ini kita gunakan untuk membeli Istana Gebang," tandasnya.
Dia mengungkapkan rencana penjualan Ndalem Gebang oleh ahli waris tidak bisa diprotes karena itu hak sebagai ahli waris.
"Sebagai ahli waris kita tidak bisa melarang ini dijual. Tapi kita ingin tempat ini dibeli dan dikelola oleh lembaga atau yayasan dan negara. Karena tempat itu bukan sekedar nilai budayanya tapi banyak nilai lainnya," pungkasnya. (wln/bdh)











































