Mereka menolak rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Madura, yang dinilai bakal mengancam keselamatan jiwa. Seperti contoh tragedi Chernobyl yang telah banyak makan korban.
Peserta yang memakai plester, selain dari kalangan umum juga berasal dari mahasiswa se Kabupaten Sumenep, ormas Islam, pondok pesantren, aktivis lingkungan serta elemen masyarakat lainnya.
Koodinator aksi, Ardiyansah mengatakan, warga Madura tidak akan pernah menerima pembangunan yang memakai nuklir, sebab, PLTN merupakan neo imperealisme, penjajahan baru dan penjajahan barat untuk negara timur.
Lebih dari itu, PLTN juga merupakan energi pertambangan yang tidak dapat diperbaiki dan merusak alam. "Apalagi, PLTN itu mengandung radioaktif," tegas mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Keislaman Annuqayah Guluk Guluk saat berorasi, Sabtu (26/4/2008).
Menurut dia, energi radioaktif yang dikeluarkan atom nuklir terlalu berisiko untuk kesehatan manusia dan lingkungan. Terlebih, jika sampai terjadi masalah terhadap reaktor nuklir. Seperti saat terjadi ledakan reaktor nuklir di Ukraina 22 tahun silam.
Aksi penolakan terhadap pembangunan PLTN kali ini mendapat pengawalan ketat dari Satlantas Polres setempat. Sebab, jalan yang dilalui pengunjuk rasa merupakan jalur padat di Jalan Trunojoyo.
Puas melakukan orasi, mereka mengakhiri aksinya di depan taman bunga (TB) dengan melakukan salat ghaib dan doa yang ditujukan kepada korban tragedi di Chernobyl silam. (fat/fat)











































