Sebelum melukis anak-anak bernyanyi bersama lagu 'Ibu Kita Kartini' dan didongengi tentang siapa sosok Ibu Kartini itu di masa perjuangannya oleh Bunda Nur Sholikhah.
Dengan tekun, mereka mendengarkan dongeng hingga selesai. "Ibu Kartini sudah meninggal ya Bunda," tanya Rahman. Lalu di jawab Bunda Sholikah secara gamblang mulai lahirnya hingga wafatnya.
Usai mendengarkan dongeng, siswa yang bersekolah di Perum Tira Wage Residen Blok AA, Taman Sidoarjo itu diberikan pengarahan sebentar bagaimana cara menggambar wajah Ibu Kartini di atas media kain putih yang dipandu Kak Iwan.
Rangkaian acara pembuakaan selesai, lalu anak-anak yang saat itu mengenakan pakaian bebas mulai menempati posnya masing-masing dan duduk di pinggir bentangan kain putih di Blok H 6 Perumahan Taman Aloha.
Di hadapan mereka selain kain putih, terdapat pula kuas dan cat warna yang di letakkan di atas mika plastik. "Sudah siap anak-anak. Masih ingatkan apa yang Kak Iwan gambar tadi," sapa Kak Iwan mengawali melukis bersama. Lalu dengan cekatan, puluhan siswa yang usianya 3-6 tahun itu segara melukis Ibu Kartini.
Namanya juga masih anak-anak, gambar yang dihasilkannyapun tentunya masih jauh dari kesempurnaan. Misalnya saja gambar karya Diva dari Kelas Al-Farabi, wajah Ibu Kartini terlihat sangat bulat namun dari segi pewarnaan untuk kategori anak-anak cukup bagus.
Tak hanya Diva, anak-anak yang lain juga berusaha melukis sedemikian rupa agar memproleh gambar yang maksimal meski terdapat coretan yang yang tidak beraturan.
Lucunya lagi, hasil lukisan dari ank-anak play group. Mereka hanya coret-coret garis dan lingkaran. Mereka mengaku menggambar tokoh-tokoh kartun yang ditayangkan di televisi. Aldo, misalnya siswa bertubuh mungil ini mengaku sedang menggambar tokoh film fiksi Ultraman.
"Saya tadi tidak gambar Kartini tapi gambar Ultraman," akunya. Ditanya cita-cita, mereka banyak yang mengidam-idamkan menjadi seorang dokter dan tentara. Rahma misalnya, siswa kelas Salman Al-Farisi ini bercita-cita menjadi dokter dan kasir.
"Kalau ada yang sakit pasti nanti Rahma yang akan mengobatinya. Kalau tidak jadi dokter ya jadi kasir, orang-orang bayarnya ke Rahma," kata Rahma dengan centilnya.
Menurut Bunda Nur Sholikah Kepala Sekolah PGTK Al-Amin, peringatan kelahiran Ibu Kartini ini sudah menjadi agenda tahunan sekolah. Tahun ini memang sengaja dibuat beda di bandingkan tahun sebelumnya. "Tahun lalu kita pentas dimana anak-anak unjuk
kebolehan fashion show dengan memakai pakaian adat dan profesi," terangnya.
Lebih lanjut dijelaskannya, dengan kegiatan melukis bersama wajah Ibu Kartini diharapkan anak-anak akan tetap mengingat siapa sosok Ibu Kartini. Perempuan kemerdekaan yang telah berjuang memerdekakan kaum perempuan.
"Anak-anak agar tahu juga bahwa berkat jasa Ibu Kartini, sekarang banyak kaum perempuan yang sukses bahkan memeiliki jabatan yang setara dengan kaum pria," jelasnya.
Foto: Suasana menggambar wajah RA Kartini/Lusi Sulistyowati (gik/gik)











































