Warga Dua Desa di Sumenep Terpaksa Makan Gaplek, Duh...

Warga Dua Desa di Sumenep Terpaksa Makan Gaplek, Duh...

- detikNews
Minggu, 20 Apr 2008 11:06 WIB
Warga Dua Desa di Sumenep Terpaksa Makan Gaplek, Duh...
Sumenep - Melambungnya harga sembilan bahan memicu sebagian warga Dusun Gaccereng, Desa Juruan Daya dan warga Dusun Tanah Lesek Desa Juruan Laok, Kecamatan Batuputih, Sumenep, mulai mengkonsumsi nasi aking (sisa makanan yang dikeringkan) dan gaplek (singkong yang dikeringkan).

"Susah mas hidup seperti saat ini. Harga sembako terus naik, penghasilan dari bertani juga tidak lagi mencukupi kebutuhan sehari-hari," ujar Ny Mariyem (41) warga Dusun Tanah Lesek, Desa Juruan Laok pada detiksurabaya.com, Minggu (20/4/2008).

Pengakuan Ibu tiga anak yang terpaksa memakan nasi aking dicampur dengan gaplek ini karena sudah tidak mempunyai uang lagi untuk membeli beras.

Sedangkan tanaman jagung yang diharapkan dapat menghidupi keluarganya gagal panen akibat cuaca yang tidak menentu pada awal musin tanam.

Meski ia sempat ditawari untuk membeli beras warga miskin (raskin) dari aparat desa, tapi tidak mempunyai kemampuan membeli. Ironisnya, keluarga yang bekerja sebagai buruh tani ini tidak pernah menerima bantuan apapun dari pemerintah setempat.

Pantauan detiksurabaya.com, warga di dua dusun tersebut banyak yang makan nasi aking dan dicampur gaplek. Mengenaskan lagi, makanan yang sudah tidak bergizi itu disantap dengan masakan daun kelor, garam dan cabe.

Menurut warga lainnya, As'adi (39) kondisi ekonomi masyarakat sangat
memprihatinkan dan butuh penanganan serius dari pemerintah sebelum timbul persoalan sosial baru.

Menurut dia, ada warga kurang mampu yang mulai mengemis. "Kalau warga kurang mampu semuanya mengemis, jadi apa negara ini," ujarnya pada detiksurabaya.com, Minggu (20/4/2008).

Kepala Desa Juruan Laok, Kecamatan Batuputih, Sumenep, Asbhari, mengakui jika ada warganya yang taraf ekonominya sangat rendah, namun bukan berarti tidak pernah diusahakan untuk mendapatkan program dari pemerintah.

"Warga kurang mampu tetap menjadi skala prioritas dalam setiap program
pengentasan kemiskinan dari pemerintah. Ini hanya menunggu waktu dan giliran saja," tegas Asbhari di balai desa setempat.

Foto:Gaplek terbuat dari singkong yang sudah dikeringkan./file (gik/gik)
Berita Terkait