"Meski sudah digrojok beras untuk warga miskin (Raskin), tapi kami tidak mampu untuk menebusnya. Apalagi minyak tanah dan kebutuhan lainnya juga ikut naik, darimana kami mendapatkan uang," keluh Sajuto (47), nelayan Dusun Kali Asin, kepada detiksurabaya.com, Selasa (15/4/2008).
Sudah 2 bulan ini puluhan KK perkampungan nelayan menghentikan kegiatannya menangkap ikan. Cuaca buruk disertai gelombang pasang, serta tidak terjangkaunya harga minyak tanah (mitan) sebagai BBM perahu, memaksa mereka untuk menambatkan armada perahu.
Untuk mendapatkan nasi basi yang dikeringkan tersebut, sebagian warga ada yang membeli ke pedagang khusus nasi aking. Setiap besek atau sekitar 2,5 kilogram beras aking, dipatok harga Rp 2.500.
"Tapi ada juga yang mendapatkannya dari tetangga kampung lebih mampu dari sisa nasi basi. Itu yang kami jemur kemudian ditanak jadi cangkarok (nasi aking, red)," tutur Misyani (35) ibu rumah tangga dengan 3 anak ini.
Agar campuran nasi aking yang ditanaknya itu lebih gurih, mereka kemudian mencampurnya dengan garam dengan sedikit parutan kelapa. "Lauknya ya cuma sayuran dan sambel. Beruntung kalau punya sisa ikan asin atau sekadar tempa dan tahu," imbuh Misyani.
Hamidi (42), nelayan kampung Kalisasin menuturkan, kalau memakan nasi aking sebenarnya merupakan kebiasaan sebagian warga kampungnya saat musim paceklik tiba. Namun saat ini warga pemakan nasi aking kian bertambah karena makin tidak terjangkaunya kebutuhan pokok akibat kenaikan harga.
Sementara, Bupati Situbondo, dr H Ismunarso saat dikonfirmasi wartawan mengatakan, kalau kondisi yang menimpa warga nelayan tersebut belum dikatakan rawan pangan. Meski demikian pihaknya berjanji akan segera turun ke lapangan untuk mengetahui lebih jauh tentang fakta tersebut.
"Kalau memang benar, besok kami akan segera memeberikan bantuan pangan ke warga di sana. Tapi staf kami sudah turun untuk mendata warga miskin yang mengkonsumsi nasi aking," tandas Ismunarso. (bdh/bdh)











































