Banyaknya massa yang datang membuat antrean kendaraan hingga sepanjang 1 kilometer. Puluhan personel Polri dan TNI diterjunkan untuk mengamankan aksi.
Dalam aksinya, warga mencabut bendera merah di puncak bukit yang merupakan titik puncak bangunan bendungan setinggi 72 meter. Mereka lalu menggantinya dengan spanduk bertuliskan "Warga Enam Desa Sepakat Menolak Pembangunan Bendungan di Desa Kedungbendo".
Selama proses pemancangan spanduk dilakukan ritual penanaman 3 batang bambu kuning dengan ukuran berbeda. Saat penanaman berlangsung, massa serentak meneriakkan kalimat Allahu Akbar. Suasana haru membuat sebagian demonstran perempuan menitikkan air mata.
"Tidak mungkin hidup kami lebih sejahtera setelah dibendung. Mana ada tempat yang lebih baik dari tempat tinggal kami," ujar Ny Herman Wilisgoni warga setempat sambil menangis sesenggukan, Minggu (13/4/2008).
Usai pencabutan bendera dan pemasangan spanduk aksi dilanjutkan pengecatan garis tanda poros bangunan bendungan. Garis berwarna merah yang melintang jalan beraspal itu ditutup dengan cat warna hitam hingga hilang warna aslinya. Kali ini terdengar lantunan shalawat badar dari megaphone yang dibawa salah seorang koordinator. Lagi-lagi, massa serentak menirukan.
"Ini adalah simbol perlawanan kami. Apapun alasannya warga tetap menolak," tegas Sri Widyowati Atmojo, ketua Formas Tegalsari kepada detiksurabaya.com.
Setelah hampir satu jam menggelar demo, warga akhirnya membubarkan diri. Mereka mengancam menggelar demo lanjutan jika penolakan mereka tidak dikabulkan.
Untuk diketahui, wacana pembangunan Bendungan Kedungbendo bukanlah rencana baru. Proyek prestisius senilai Rp 850 miliar itu telah direncanakan sejak tahun 1974. Ini termasuk beberapa lokasi mulai Wonogiri, Bendo dan Badegan Ponorogo. Rencana tersebut sempat memicu reaksi warga akibat kurangnya sosialisasi. (bdh/bdh)











































