Sedangkan Fendi (35) dan Yudi (28) yang turut membantu menguras sumur, hanya mengalami mual dan pusing dan sudah diperkenankan pulang setelah sempat dirawat dan diobati.
Keterangan yang berhasil dihimpun detiksurabaya.com menyebutkan, sumur sedalam sekitar 20 meter vital. Karena sebagian besar warga sekitar menggantungkan pada mata air itu. Untuk memfungsikan sumber mata air itu, Asmari dan Untung mengajak kerabatnya yang lain, Fendi dan Yudi untuk bergotong-royong menyingirkan timbunan lumpur serta menguras sisa air kotor di dalam sumur.
Semula untuk menguras air dari bawah permukaan tanah, mereka menggunakan cara manual yakni menurunkan timba dan ditarik dengan alat penggerek dari atas bibir sumur. Namun karena dianggap memakan waktu lama untuk menuntaskan, mereka lantas menggunakan mesin penyedot air yang biasa digunakan memompa irigasi air di sawah.
Saat mesin pompa air dihidupkan itulah, kepulan asap pekat dari mesin itu memenuhi seluruh lubang sumur. Tak lama berselang, terdengar teriakan minta tolong dari Asmari dan Untung yang saat itu memang bertugas menguras air dan membersihkan bagian dalam sumur.
"Mendengar teriakan minta tolong, Yudi dan Fendi yang ada di atas bergegas turun dan sudah melihat kedua korban tergeletak di dasar sumur. Namun belum sampai ke bawah Yudi dan Fendi sudah muntah-muntah, pusing dan kembali naik ke permukaan," ujar Ketua RT lingkungan setempat, Suto kepada wartawan di lokasi.
Untuk memastikan penyebab kematian kakak beradik itu, kedua korban langsung dilarikan ke RSUD Situbondo untuk dilakukan otopsi. Sementara petugas bagian Forensik RSUD Situbondo, dr Budiono, ketika dikonfirmasi menerangkan, jika kedua warga yang tewas itu kekurangan oksigen serta menghirup karbondioksida.
"Ya, karena dia menggunakan mesin di dalam sumur, maka asap yang dikeluarkan mesin pompa air itulah yang menyebabkan korban pingsan dan akhirnya tak tertolong," tukasnya. (fat/fat)











































