Sebelumnya, pemilik usaha panti pijat telah diingatkan untuk melakukan penataan dan pembenahan dilakukan secara bertahap. Diantaranya dengan melengkapi gembok pada celana pemijatnya.
"Pemkot Batu memberikan kesempatan hingga sebulan ke depan (Mei)," ungkap pemilik panti pijat Dhoghadho, Franky Setiawan kepada detiksurabaya.com di tempat usahanya, Jalan Raya Beji, Kota Batu, Jumat (4/4/2008).
Nampaknya, niatan Pemkot Batu menghindari panti pijat sebagai praktek prostitusi terselubung juga mendapat dukungan pengusaha panti pijat.
Mereka tengah menyiapkan sarana untuk mengubah citra panti pijat, seperti yang telah diawali Dhoghado sebagai panti pijat untuk kesehatan dan relaksasi. Di Dhoghado, semua celana pemijatnya sudah digembok.
Apalagi, bisnis yang telah berjalan selama 8 tahun itu justru semakin berkembang dengan predikat bebas seks.
"Paguyuban pengusaha panti pijat sepakat untuk mentaati aturan.Kita juga sering ketemu membahas soal persaingan usaha yang sehat," tuturnya.
Pengalaman Franky menangani panti pijat untuk kesehatan akan ditularkan kepada para pengusaha panti pijat yang lain.
"Saya senang saja berbagi pengalaman. Bahkan, saya sering diajak kerjasama untuk mengembangkan usaha di luar daerah, tapi saya tolak dengan halus," terangnya.
Franky bertekad untuk mengembangkan usaha yang digelutinya ini di Batu. Serta, mengajarkan masyarakat jika panti pijat bukan tempat maksiat. (gik/gik)











































