Alasannya, meski sejak tahun 2000 usaha panti pijat sudah mewajibkan pekerjanya mengenakan celana bergembok, tapi para pelanggan tetap masih bisa menikmati layanan 'pijat aurat' (baca: kencan).
Pengakuan itu diungkap Ryan Nugraha, salah satu pelanggan setia tempat pijat yang ada di pintu gerbang Kota Batu. Dia mengaku pernah mencoba ngeseks dengan massage girl yang celananya sudah dipasangi gembok.
"Gembok tetap saja masih bisa dibuka, cukup memberi tips Rp 100 ribu. Kita sudah mendapat layanan tambahan," kata Ryan Nugraha, warga Malang saat ditemui detiksurabaya.com di sebuah kafe di Kota Batu, Jumat (4/4/2008).
Bahkan, untuk pijatan massages girl yang menjadi primadona, kata Ryan yang asli Ngawi ini para pengunjung harus rela merogoh kocek hingga Rp 200 ribu.
Kadang untuk bisa merasakan pijatan sang primadona, pelanggan harus menunggu berjam-jam menunggu giliran. Untuk menghilangkan kejenuhan menunggu giliran. "Pelanggan biasanya mengisi waktu dengan karaoke atau sekedar minum bir," tambahnya.
Ryan meyakinkan sekitar 90 persen pelanggan berharap layanan lebih dari sekedar pijatan dan mandi uap. Mereka rata-rata datang untuk bukan hanya untuk rileksasi dengan pijatan lembut massages girl saja.
"Tapi juga untuk memuaskan nafsu liarnya," pungkas dia. (gik/gik)











































