Pengamatannya ini dikemukakan usai meresmikan posko relawan SR (Sutjipto-Ridwan) Kabupaten Bojonegoro di Jalan MH Thamrin, pukul 15.30 WIB, Kamis (3/4/2008).
"Pengijon politik sudah sangat membudaya di Indonesia, seperti halnya korupsi. Kalau rakyat sudah terjerat pengijon politik maka rakyat tidak punya kekuatan dalam kontrak politik," kata Sutjipto pada detiksurabaya.com.
Sutjipto atau biasa di panggil Pak Tjip berani bertaruh, kalau dirinya maupun pasangan Ridwan Hisjam, tidak akan melakukan money politic atau sembako politic. Jika didapati melakukan, dia siap mengundurkan diri sebagai calon gubernur Jatim. Sedangkan KPUD Jatim sendiri tentu akan memproses temuan money politic yang dilakukan oleh pasangan calon.
"Pokoknya sampai aku melakukan money politik aku tak mundur, ini prisip kok. Kalau yang lain melakukan, ya itu kan kewenangan KPU. Yang penting menyadarkan rakyat maupun politisi itu sendiri dalam berdemokrasi," tambah Pak Tjip yang mengenakan setelan safari hitam-hitam didampingi Ali Muji, Wakil Sekretaris DPD PDIP Jatim.
Anggota Komisi I DPR RI ini mengaku, tidak menerapkan pola pendekatan khusus pada kalangan politik tertentu. Termasuk pada kaum nahdliyin yang selalu diperebutkan dalam tiap Pilkada di Jatim. Perbedaan pola pendekatannya hanya tergantung pada segmen profesi orang yang dihadapinya. Seperti petani, petambak, nelayan atau pegawai.
Sebelum meresmikan posko relawan SR, dalam safari politiknya Sutjipto lebih dulu mengunjungi sentra industri kerajinan kayu jati di Desa Batokan, Kecamatan Kasiman, Bojonegoro. Kemudian dilanjutkan ke perkampungan penambang minyak tradisional di Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan.
"Mata saya sekarang terbuka. Saya melihat Bojonegoro ini sangat kaya dengan sumber daya alam. Tapi ironis sekali, kenapa rakyatnya masih miskin. Saya yakin ini pasti ada yang salah, entah pemerintahnya atau rakyatnya?," pungkas Pak Tjip. (bdh/bdh)










































