Dari pengamatan detiksurabaya.com, antrean mengular nampak di agen penyalur gas elpiji PT Elgas Primakade di Jalan Mayjend Sungkono No 16 Kota Kediri terjadi sejak pukul 07.00 WIB.
"Kalau nggak begini gak bisa dapat gas elpiji Mas. Di tingkat pengecer sekarang sudah tidak ada barang, kalaupun ada harganya bisa mencapai 80 ribu," kata Mutmainah (36) ibu rumah tangga yang juga rela mengantre dan meninggalkan pekerjaan rumahnya.
Hal yang sama juga dirasakan Edi Susanto (37) yang juga ikut mengantre. Dia mengaku sangat terbebani dengan "kewajiban" mengantri gas elpiji tersebut. Dia beralasan dengan mengantre berjam-jam, waktunya yang seharusnya bisa untuk bekerja menjadi tersita.
"Nggak ngantre gak dapat elpiji, tapi kalau ngantre gak bisa kerja dan gak dapat duit. Pemerintah ini maunya apa," gerutu Edi yang diamini pengantre gas elpiji lainnya.
Warga berharap, pemerintah seharusnya meninjau kembali kebijakan pelaksanaan konversi minyak tanah ke gas elpiji. Pemerintah dinilainya masih belum siap dan terlalu memaksakan diri untuk melaksanakan konversi minyak tanah ke gas elpiji.
Sementara secara terpisah Dewi, salah satu karyawan PT Elgas Primakede justru kaget dengan adanya antrean panjang pencari gas elpiji di agen tempatnya bekerja.
"Biasanya nggak seperti ini Mas. Memang dari jatah 168 tabung setiap harinya, nggak sampai 3 jam akan langsung habis, tapi kenapa sekarang jadi antrean panjang seperti ini," ungkap dewi kebingungan melayani pencari gas elpiji.
Dewi menambahkan, sejak terjadi kelangkaan, tempatnya bekerja memberlakukan pembatasan pembelian, yaitu satu warga hanya bisa membeli satu tabung. Namun untuk harga, tempatnya tidak memberlakukan kenaikan harga.
"Pembatasan ini kami lakukan kan untuk kelancaran juga, tapi harganya tidak kami naikkan tetap 52 ribu," imbuhnya.
Selain itu, lokasi PT Elgas Primakede yang berlokasi tepat di tepi jalan raya menjadikan antrean sehingga menimbulkan kemacetan arus lalu lintas hingga mencapai 2 Km.
(bdh/bdh)










































