Ketiga desa yang terisolasi akibat jebolnya jembata tersebut terdiri Desa Pagutan, Desa Gunungsari dan Desa Borang.
Peristiwa jebolnya jembatan itu terjadi pada, Jumat dini hari (21/3/2008) akibat meluapnya Sungai Grindulu yang merupakan sungai terbesar di Pacitan. Pondasi bangunan yang rapuh diduga tidak kuat menahan derasnya arus air sehingga menyebabkan ujung jembatan sebelah timur ambrol dan putus.
Penyebab lainnya diduga karena laju air terhalang bangunan pabrik pengolahan tambang yang berada persis di bantaran sungai. Sehingga aliran air berbelok arah dan menghantam bahu jalan dan jembatan.
"Dulu banjir tidak pernah sebesar ini. Tapi setelah adanya pabrik luapan sampai masuk ke
pemukiman," terang Tarto (42) warga desa Pagutan kepada detiksurabaya.com.
Narto menambahkan, jembatan sepanjang 40 meter tersebut merupakan alternatif paling dekat bagi warga sekitar untuk menuju ke kota kecamatan dan kabupaten. Terang saja, putusnya jembatan berdampak pada aktivitas ekonomi warga. Ini termasuk terganggunya transportasi siswa ke sekolah.
"Kami bingung harus bagaimana," ungkap Tarto sedih.
Untuk mencapai jalan raya, kata Tarto warga terpaksa memutar melalui Jembatan Grunggung atau melewati ruas Desa Banjarsari-Purworejo-Pacitan yang berjarak sekitar 13 kilometer.
Sementara itu, hingga siang hari ini puluhan warga masih membuat jembatan darurat dengan memasang balok kayu pada bagian jembatan yang putus.
Foto: Kondisi jembatan yang putus pada bagian ujungnya, Oto Nugraha Adi (bdh/bdh)










































