Bahkan, Fahrus sempat muntah-muntah karena dinyatakan gegar otak dan akhirnya meninggal dunia saat dilarikan ke RSU dr Soetomo Surabaya, Sabtu pukul 04.00 WIB kemarin. Namun hingga kini pengurus pondok pesantren tersebut masih menutupi penyebab kematian santrinya.]
"Tidak benar kalau Fahrus meninggal karena main smack down. Dia sudah sakit sebelum ujian pondok 9 Maret lalu. Jadi, kematiannya Almarhum itu murni karena sakit," tegas Mundir Am (pengurus umum) PP Al-Amien Prenduan Sumenep, Ust Zainullah kepada
detiksurabaya.com saat dihubungi, Minggu (16/3/2008).
Ia tetap membantah dan meluruskan pemberitaan disejumlah media massa jika Fahrus itu bukan meninggal karena ada kekerasan di lingkungan pondok. "Tidak ada masalah dengan meninggalnya Fahrus," katanya singkat.
Hal tersebut berbeda dengan pernyataan pengurus pondok lainnya dalam perbincangannya dengan salah satu dokter forensik, dr Nabil di kamar mayat RSU dr Soetomo Surabaya, Sabtu (15/3/2008) yang menjelaskan jika korban sempat main gulat dengan santri lain. Akibatnya, mengalami muntah-muntah dan sempat dirawat di klinik pondok.
Namun pertolongan pertama itu tidak mampu sehingga dilarikan ke RSD dr Moh Anwar Sumenep, pada Sabtu dini hari. Sedangkan pihak rumah sakit Sumenep juga menyarankan untuk dirujuk ke RSU dr Soetomo Surabaya. Tapi, upaya tersebut tidak berhasil, dan korban tewas sekitar pukul 04.00 WIB.
Sementara itu, menurut salah satu dokter forensik, dr Nabil saat berada di kamar mayat RSU dr Soetomo Surabaya, Sabtu (15/3/2008) menyebutkan jika ada luka di kepala bagian belakang akibat benturan. Diperkirakan kematian korban disebabkan oleh cedera otak berat (gegar otak) yang dialami. (bdh/bdh)











































