Suprapti beserta suaminya Sapto (60) dibacok di rumahnya, sedangkan sedangkan suaminya menderita luka serius dan harus dirawat di RS Jember Klinik.
Menurut Aji, salah satu orang yang menolong Sapto, dirinya bersama teman-teman kosnya mendengar teriakan minta tolong. Tempat tinggal Sapto dan Suprapti merupakan kawasan tempat kos mahasiswa.
"Ketika mendengar teriakan minta tolong kami semua keluar rumah dan melihat ke arah suara itu, ternyata bapak itu sudah di tengah jalan sambil berlumuran darah," kata Aji.
Menurutnya, hanya dengan menggunakan sarung tubuh Sapto sudah penuh luka. Aji menunjuk luka Sapto ada di tangan, dahi dan punggung.
"Penuh bacokan. Kami tidak mendengar ada suara mencurigakan atau suara gaduh sebelumnya. Tiba-tiba saja ada orang minta tolong," imbuh Aji yang tempat kosnya berada di depan rumah Sapto.
Sedangkan Erlin, warga lainnya mengaku juga hanya mendengar teriakan minta tolong dari arah depan rumahnya. "Pertama takut untuk keluar rumah, setelah ramai orang saya juga keluar. Pak Sapto sudah berlumuran darah. Katanya rumahnya dimasuki maling," ungkap Erlin.
Melihat kondisi Sapto, Aji dan teman-temannya langsung menggotongnya dan membawanya ke rumah sakit. Sedangkan warga yang lain menjaga rumah Sapto.
Sekitar 30 menit kemudian, polisi mendatangi lokasi kejadian dan memeriksa rumah tersebut.
Polisi menemukan Suprapti sudah berlumuran darah dan tewas di dalam kamarnya. Polisi langsung membawanya ke kamar mayat RSUD dr Subandi Jember.
Hingga kini polisi masih menyelidiki kasus ini. "Masih diselidiki dan meminta keterangan korban selamat. Jadi belum tahu motifnya apa," kata Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Jember, AKP Kholilur Rahman. (bdh/bdh)










































