"Sudah 4 hari ini kepastian susu apa yang berbakteri belum ada. Pemerintah belum mengumumkan secara resmi. Ini membuat pedagang susu susah karena penjualan menurun drastis, hampir 50 persen," kata salah satu penjual susu formula, Susiana kepada detiksurabaya.com saat ditemui di tokonya Jalan Soekarno Hatta, Bangkalan, Sabtu (1/3/2008).
Dia menambahkan, bila sehari-harinya mampu menjual kurang lebih 50 kaleng susu formula, sejak 4 hari lalu bisa menjual 10 hingga 15 kaleng susu formula.
"Waduh..Kalau begini terus, saya bisa bangkrut. Apalagi pemerintah juga belum mengambil tindakan apa-apa," tegasnya.
Sedangkan dari pengakuan salah satu pembeli, Ny Asih mengaku dirinya enggan membeli susu formula dalam porsi banyak.
"Saya memilih mengurangi konsumsi susu untuk anak saya. Takut berita bakteri yang terkandung dalam susu bisa membuat penyakit. Nanti saja kalau sudah ada pengumaman pasti, saya akan cari susu formula yang lebih baik," jelas Ny Asih.
Sementara itu, dari pengakuan salah satu petugas Disperindang Bangkalan, Nursaka Aminuddin mengaku belum bisa menentukan langkah apapun.
"Kita belum bisa mengambil langkah apapun. Kita masih menunggu surat resmi dari instansi terkait," tegasnya.
Sebelumnya, Institut Pertanian Bogor (IPB) menemukan 22 sampel susu formula yang dinilai mengandung bakteri enterobacter sakasakii. (fat/fat)











































