Seperti yang dialami beberapa minimarket di Tulungagung. Karena tidak ada pengumuman resmi dari pemerintah tentang jenis susu formula yang mengandung bakteri, pedagang mulai mengalami penurunan penjualan.
Salah satu pemilik toko di Desa Beji Kecamatan Boyolangu, Tulungagung, Agus mengaku sejak ada isu bahwa susu formula mengandung bakteri, penjualannya menurun.
"Gara-gara isu susu mengandung bakteri, dua hari ini penjualan susu formula saya menurun sekitar 25 persen," katanya kepada detiksurabaya.com, Kamis (28/2/2008).
Hal senada juga diungkapkan oleh Ahmad. Dia mengalami penurunan untuk penjualan susu formula. Bila tiap hari ada 5 hingga 7 pembeli, sejak dalam dua hari ini pembeli maksimal hanya 3 orang.
Rupanya tidak hanya pedagang, para konsumen yang kebanyakan ibu-ibu pun juga resah. Mereka pun akhirnya memilih mengurangi konsumsi susu formula terhadap anaknya-anaknya.
"Bila tiap hari bisa 4 hingga 5 botol, saat ini saya hanya berani memberikan 2 botol saja per hari. Saya takut, apalagi ada kabar susu formula yang mengandung bakteri," kata Ny Nur.
Ny Nur berharap, pemerintah segera mengumumkan susu-susu yang mengandung bakteri atau tidak. Agar masyarakat tidak resah dan bertanya-tanya saat membeli susu yang aman.
Baru-baru ini, Institut Pertanian Bogor (IPB) menemukan adanya susu formula dan makanan bayi yang diduga mengandung zat berbahaya jenis enterobacter sakazakii. Namun IPB belum merilis nama produk-produk tersebut. (fat/fat)










































