"Bagaimanapun PLN gagal dalam menjamin pasokan listrik untuk konsumen. Walau itu bukan kesalahan konsumen," kata Direktur Utama PLN Eddie Widiono saat meresmikan Kantor PT Artho Ageng Energi (AAEnergy) di Jalan Veteran, Surabaya, Sabtu (23/2/2008).
Kegagalan ini, kata Eddie, terkait dengan keterlambatan PLN dalam melakukan perubahan paradigma atau pandangan. Semula PLN melakukan pendekatan dari hulu ke hilir, namun dalam beberapa tahun terakhir ini cara pendekatan manajemen PLN pun diubah dari hilir ke hulu.
Saat ini kata Eddie masyarakat penggunan PLN bukan lagi sekedar konsumen semata melainkan sebagai partner yang memiliki keinginan yang sama dengan PLN.
"Memang tidak mudah mengubah paradigma itu. Tapi PLN akan berorientasi pada kebutuhan konsumen, keinginan pasar baru kependekatan produksi. Bukan lagi sebaliknya," ujarnya.
Pria berkacamata ini berkeinginan perubahan paradigma pendekatan manajemen dari hilir ke hulu dipercepat sehingga layanan bagi konsumen bisa ditingkatkanya. Pendekatan gaya baru manajemen PLN ini tuturnya masih fifty-fifty antar hulu ke hilir dan hilir ke hulu.
"Memang tidak gampang karena biaya PLN hampir 70 persen dari hulu. Namun saya optimistis dengan menggandeng rekanan dari para pembangkit listrik perubahan paradigma itu bisa segera diwujudkan," tandasnya. (wln/bdh)











































