Ombak Ganas, Pengusaha Terasi di Sumenep Terpuruk

Ombak Ganas, Pengusaha Terasi di Sumenep Terpuruk

- detikNews
Sabtu, 23 Feb 2008 09:47 WIB
Sumenep - Cuaca buruk yang melanda perairan di Jawa Timur ternyata tidak hanya dirasakan oleh nelayan saja. Pengaruh cuaca ternyata juga berimbas ke pengusaha terasi di Sumenep, Madura.

Sejumlah home industri yang memproduksi terasi di Desa Badur Kecamatan Batuputih, Kabupaten Sumenep, saat ini terpuruk, akibat cuaca buruk sejak dua bulan terakhir melanda wilayah perairan Sumenep.

Dari 15 usaha rumah tangga, kini hanya 5 yang masih bertahan membuat terasi karena minimnya pasokan udang papai sebagai bahan baku terasi, karena sebagian besar nelayan belum merani melaut seiring dengan gelombang laut yang membahayakan.

Para nelayan setempat yang biasanya mampu menangkap antara 100 sampai 150 kg udang papai per nelayan untuk diolah menjadi terasi, saat ini hanya mendapatkan 10 sampai 15 kg per nelayan setiap harinya.

Akibat pasokan udang papai terbatas, pengusaha pembuat terasi mulai beralih profesi, baik jadi buruh tani dan sebagian lainnya menjadi pemecah batu untuk bahan bangunan dan perbaikan jalan aspal serta keperluan lainnya.

Salah seorang pembuat terasi yang saat ini sementara tidak berproduksi, Mat Dullah (47) warga Desa Badur Kecamatan Batuputih,  Sumenep, menyebutkan, para nelayan sebenarnya lebih senang membuat terasi bila menjual udang dalam bentuk mentah. Sebab, harganya lebih murah.

Harga udang papai basah biasanya dijual antara Rp 4.000 sampai Rp 5.000 per kilo, sedangkan 1 kg terasi (Madura, Acan) bisa dijual antara Rp 25.000 sampai Rp 30.000 per kilo dan diperlukan hanya 3 kg lebih udang papai.

"Jadi, antara nelayan pencari udang papai dengan pembuat terasi, saat ini benar-benar terpuruk akibat cuaca yang kurang baik ini," ujar Dullah, saat ditemui detiksurabaya.com di rumahnya Desa Badur Kecamatan Batuputih, Sumenep, Sabtu (23/2/2008).

Sementara, salah seorang nelayan, Atrawi (29) warga Desa Badur lainnya mengatakan, sebenarnya saat ini waktu yang baik untuk menangkap udang bahan baku terasi.

"Kalau berani melaut saat cuaca buruk, pasti mendapatkan udang banyak, karena saat ini memang waktunya banyak udang. Tapi, mayoritas nelayan memilih istirahat, meski sebagian ada yang melaut di dekat bibir pantai," kata Atrawi.

Ia berharap, kondisi laut cepat membaik, agar nelayan kembali beraktifitas normal dan pembuat terasi juga bisa bergairah setelah dua bulan terakhir mengurangi produksinya dan ada pula yang berhenti sementara.

Terasi nelayan Desa Badur tersebut, banyak diperjualbelikan di wilayah Sumenep sendiri, serta sejumlah daerah lain di Jawa Timur, seperti Banyuwangi, Situbondo dan kota-kota lainnya. (bdh/bdh)
Berita Terkait