Diduga kuat makanan yang menjadi sumber pemicu keracunan 'berjamaah' tersebut berasal dari masakan ayam bumbu merah pada nasi berkat yang dibawa pulang pada acara tersebut. Rata-rata korban keracunan adalah kalangan ibu-ibu dan anak-anak yang menyantap oleh-oleh nasi berkat yang dibawa pulang.
Akibatnya, puluhan itu harus dilarikan ke Puskesmas Arjasa. Hingga pukul 09.00 WIB, Selasa (19/2/2008), sebagian besar warga yang telah mendapatkan pertolongan pengobatan sudah bisa pulang. Namun masih ada 9 warga yang terpaksa rawat inap karena kondisinya masih lemas.
"Awalnya mual, pusing kemudian muntah-muntah disertai buang air besar. Kondisi itu berlangsung berulang-ulang hingga warga yang makan nasi berkatan tersebut lemas dan nyaris pingsan," ungkap Komariyah (35), salah seorang korban yang kini masih dirawat.
Selain Komariyah, korban keracunan lainnya yang hingga kini masih dirawat di Puskesmas Arjasa, masing-masing Ediyanto (21), Abdul Wahid (12), Buk Emma (40), Sofiq (6), Andy Azis (16), Nono (35), Rustimah (29) dan Budi (25).
"Dugaan sementara penyebab keracunan warga ini adalah masakan ayam yang mereka dapatkan dari makanan yang didapat dari hajatan itu. Namun untuk memastikannya, kita masih membawa sample sisa masakan ayam tersebut ke laboratorium Dinas Kesehatan Situbondo," jelas Kepala Puskesmas Arjasa, dr Agus Setyabudi.
Agus Setyabudi juga memastikan bahwa kejadian keracunan makanan yang menimpa 29 warga Desa Kedungdowo tersebut merupakan kejadian luar biasa (KLB).
"Karena jumlah korban atau penderita akibat keracunan tersebut cukup banyak, maka kita klasifikasikan ini sebagai KLB atau kejadian luar biasa. Artinya, kita akan membebaskan seluruh biaya pengobatan dan perawatan bagi para korban keracunan tersebut," tukasnya.
Keterangan yang berhasil dihimpun menyebutkan, kenduri atau selamatan itu sendiri berlangsung pada hari Senin (18/2/2008) sore di rumah Hery (45), warga setempat untuk mengenang setahun kematian almarhum ayahandanya.
Dalam acara itu, sedikitnya 30 warga tetangga sekitar Hery diundang. Selain disuguhi makanan di tempat acara, para undangan juga diberi bingkisan sebuah tas plastik yang berisi makanan dan kue.
"Nasi yang berlauk ayam bumbu merah itu dimakan oleh anak saya. Sejam kemudian anak saya mengaku pusing disertai muntah-muntah hingga akhirnya berak beberapa kali. Kami kian panik karena kejadian serupa juga menimpa sejumlah tetangga," kenang Hermanto (37), ayah Sofi (6), salah seorang korban keracunan.
(gik/gik)











































