Bambang resmi mundur saat digelar rapar evaluasi tim dan panpel pada Senin, 11 Februari kemarin.
Dua alasan dikemukakan Bambang Sumaryono, yaitu ketidaksiapan menangani pertandingan Persik dalam Super Liga karena minimnya sarana yang ada di StadionĀ Brawijaya dan faktor regenerasi.
"Yang jelas saya mundur bukan hanya karena saya tidak siap dengan sarana yang ada di Stadion Brawijaya, tapi juga karena keinginan agar ada regenerasi pada tubuh Panpel," katanya saat ditemui detiksport, Sabtu (16/2/2008).
Dijelaskannya, kejadian kerusuhan suporter pada babak 8 besar lalu sangat membuatnya belajar banyak, jika sarana stadion dalam suatu pertandingan sangat vital.
Dia melihat dengan sarana yang ada saat ini di Stadion Brawijaya, terutama tribun penonton dan pagar stadion, sangat tidak layak untuk menggelar pertandingan. Apalagi, persyaratan BLI juga sangat ketat terkait hal itu.
"Jelas dalam aturan BLI, tribun VIP harus mampu menampung 15 ribu orang dan saat ini Stadion Brawijaya hanya mampu menampung 2 ribu penonton di tribun VIP," lanjutnya.
Namun Bambang menolak apabila disebut Persik tidak siap untuk bertanding di Super Liga, justru meminta kepada BLI agar merevisi aturan yang telah dikeluarkannya. Aturan tersebut, menurut Bambang Sumaryono sangat menekan klub.
"Pasti akan sangat sedikit klub yang mampu memenuhi persyaratan itu jika BLI tetap ngeyel," ungkapnya.
Sebagai gantinya Bambang mengatakan, manajer Persik Kediri HA.Maschut telah menunjuk Kepala DKLH Kota Kediri yang juga menejer Persik U-23, Rahno irianto sebagai ketua panpel yang baru.
Bambang sendiri menilai, penunjukan Rahno Irianto dianggap tepat, karena yang bersangkutan juga Kepala DKLH yang selama ini sebagai pihak yang merawat Stadion Brawijaya.
"Tepat sekali apabila pak Rahno yang menjabat Ketua Panpel, karena dia pasti ngerti betul bagaimana merawat stadion Brawijaya," kata Bambang Sumaryono. (fat/fat)











































