Tingginya gelombang-lah yang membuat kapal-kapal tersebut belum bergerak dari dermaga pelabuhan meskipun sebagian besar kapal sudah penuh muatannya.
Kapal-kapal tersebut hanya bergerak maju dna mundur untuk memberi kesempatan kapal di belakangnya untuk mengangkut barang.
"Larangan kapal berlayar berlaku hingga 16 Februari 2008 mendatang," ujar Kepala Administrasi Pelabuhan (Adpel) Gresik, Asmari kepada detiksurabaya.com, Jumat (15/2/2008).
Akibat tinggi gelombang tersebut, yang mengalami kerugian tentu saja perusahaan pelayaran, sopir truk dan para kuli.
Mereka merasa kebingungan karena tak ada uang yang masuk, sementara kebutuhan perut harus terisi. "Saya terpaksa harus ngutang di warung untuk makan," ujar Iman salah satu kuli angkut di Pelabuhan Gresik.
Pria asal Probolinggo ini mengaku sudah tiga hari tidak mendapat order mengangkut barang. Padahal biasanya, sehari-hari dia bisa mendapatkan uang Rp 30 hingga Rp 50 ribu. Namun kali ini, sedikitnya kapal yang masuk dan keluar dari pelabuhan, dirinya menghabiskan waktu dengan duduk-duduk saja.
Dirinya berharap, ada kapal atau truk yang mau memuat ataupun menurunkan barang. Di Pelabuhan Gresik terlihat juga deretan panjang truk yang sedang menunggu kapal yang akan masuk ke pelabuhan.
Namun akibat cuaca yang buruk, kapal pun tak bisa masuk ke pelabuhan. Sehingga truk-truk tersebut nampak kosong. "Saya tiap hari hanya otak-atik truk saja. Karena tidak ada kayu atau bungkil kelapa yang bisa diangkut," ujar Kholik salah satu sopir truk yang sudah 3 minggu menunggu dengan sia-sia.
Padahal, jelas dia, dalam kondisi normal dirinya bisa mengangkut 2 kali kayu dalam seminggu dna disetorkan di pabrik-pabrik di Gresik. (fat/fat)











































