"Sebagai kader partai, saya taat dan patuh pada keputusan pimpinan pusat partai yang telah menetapkan Pak Tjip (panggilan akrab Sutjipto) sebagai calon gubernur," kata Buchori, seusai pertemuan kader-kader PDIP se-Kota dan Kabupaten Probolinggo dengan Sutjipto di Gedung Widya Graha Kota Probolinggo, Kamis (14/2/2008).
Wakil Ketua DPD PDIP Jawa Timur itu menegaskan, seiring turunnya keputusan dari itu, maka selesai pula persaingan di internal partai berlambang banteng mulut putih itu. Ia melanjutkan, sekarang saatnya kader PDIP bahu-membahu dengan elemen-elemen masyarakat umum untuk memenangkan pemilihan gubernur yang tinggal beberapa bulan lagi.
"Kader PDIP yang loyal pada Ibu Megawati harus bersatu untuk mengamankan rekomendasi itu. Mari menarik simpati masyarakat untuk menambah dukungan bagi kemenangan Pak Tjip," ujarnya.
Buchori, mengingatkan, kemenangan dalam pemilihan gubernur Jawa Timur nanti menjadi memomentum strategis bagi PDIP untuk memenangkan Pemilu Legislatif dan Pemilihan Presiden pada 2009. Sesuai keputusan Rakernas II, September 2007 lalu, PDIP bulat tekad menjagokan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dalam pemilihan presiden tersebut.
Selain itu, Walikota Buchori telah lama mengenal Sutjipto sebagai figur yang bersih. Citra diri calon gubernur itu tidak ternoda problem hukum, seperti dugaan korupsi.
"Saya kenal Pak Tjip sebagai pemimpin jujur dan bersih. Semua orang tahu, Pak Tjip adalah pejuang, terutama saat partai ini digencet rezim Orde Baru," ungkapnya.
Pemimpin yang bersih dan jujur, lanjutnya, amat dibutuhkan bagi masyarakat Jawa Timur untuk melawan kemiskinan dan keterbelakangan. Saat ini rakyat menjerit karena hidup semakin susah. "Itu bisa dilakukan jika provinsi ini dipimpin oleh figur yang mempunyai komitmen pro-rakyat yang kuat, jujur dan bersih. Sosok itu kita temukan pada Pak Tjip," tandasnya. (wln/bdh)











































