"Wes cukup mas, sampek dino iki wae. Aku njalok Lapindo masukno deso ke peta tedampak (Sudah cukup mas, sampai hari ini saja. Saya minta agar Lapindo memasukkan desa ini ke dalam peta terdampak). Ini bukti nyata kalau desa kami sudah tidak aman," kata Sulham Warga RT II RW IV Desa Besuki saat ditemui detiksurabaya.com di depan rumahnya saat mengevakuasi harta bendanya, Rabu (13/2/2008).
Menurut Sulham, dia beserta warga lainnya akan meninggalkan rumah mereka selamanya. Karena saat ini warga sudah trauma dengan seringnya tanggul penahan lumpur jebol. Untuk itu warga tetap menuntut agar desa mereka direlokasi.
"Saat ini kami masih belum memikirkan apa yang akan kita perbuat, Tapi yang pati kita akan menuntut keadilan," ujarnya.
Hal senada juga disampaikan Suparlan, warga RT III RW IV. Dia menyatakan, dalam waktu dekat warga akan mengadakan aksi untuk menuntut agar Lapindo bertanggungjawab dengan memasukan desa mereka ke dalam peta terdampak.
"Kami minta Lapindo untuk segera memasukan desa kami dalam peta terdampak," ancam pria berusia 30 tahun ini.
Alasan warga Desa Besuki menuntut agar desa mereka dimasukan dalam areal peta terdampak karena pemukiman warga yang hanya berjarak sekitar 100 meter daro tanggul penahana lumpur sudah tidak aman untuk ditinggali. Dalam waktu beberapa hari ini saja, tanggul di titik 40 sudah hampir 3 kali mengalami jebol.
"Itu yang membuat kami khawatir dan tidak pernah bisa tidur nyenyak. Kami takut sewaktu-waktu tanggul jebol lagi dan memakan korban jiwa," ungkap Suparlan.
Untuk itu warga bertekad menuntut Lapindo dan pemerintah segera mengubah kebijakan dengan memasukkan Desa Besuki ke dalam areal peta terdampak. Warga tidak ingin nantinya timbul korban jiwa apabila tanggul penahan lumpur kembali jebol. (bdh/bdh)










































