Dalam pantauan detiksurabaya.com, Jumat (8/2/2008), tanaman padi yang rusak dan membusuk, berada di Desa Grogol Gede dan Desa Wonoayu, Kecamatan Mojoanyar. Sedang di Kecamatan Magersari, berada di Kelurahan
Meri dan Kelurahan Gunung Gedangan.
"Saat ini saja airnya masih setinggi, jika hari ini hujan lagi, ya sudah tidak ada harapan. Tahun lalu juga banjir, tapi di sawah tidak setinggi itu," kata salah satu warga Desa Wonoayu, Sulaiman (47) kepada detiksurabaya.com saat berada di sawahnya.
Di Kecamatan Mojoanyar, sekitar 14 hektar tanaman padi yang baru berumur 1 bulan, rusak dan membusuk akibat terendam air, sedangkan di Kecamatan Magersari, sekitar 10 hektar tanaman. Kedua wilayah ini berdekatan, meski masuk wilayah Pemkab dan Pemkot Mojokerto.
Genangan air di sejumlah lahan pertanian di Kelurahan Meri, Kecamatan Magersari, mulai menyusut. Beberapa petani mulai menanam ulang, agar tidak mengalami gagal panen. Penanaman ulang dilakukan dengan cara membeli benih persemaian padi.
"Untuk seikat persemaian padi atau anak padi, kami membeli dengan harga Rp 2 ribu. Kalau sepetak lahan ini, ya kira-kira menghabiskan Rp 200 ribu, belum termasuk ongkos buruh tani," kata salah satu petani di Kelurahan Meri, Mulyadi (46).
Meski dilanda banjir dan tanaman padi rusak, tapi Dinas Pertanian Kota dan Kabupaten Mojokerto, masih belum mendata total luas lahan yang rusak. Jumlah kerugian akibat tanaman padi membusuk pun, juga belum diketahui. (fat/fat)










































