Para pedagang mengaku, jika pada hari biasa, rata-rata mereka mendapatkan omset sebesar Rp 50 ribu. Namun pada libur Imlek kali ini menurut mereka belum satupun souvenir yang terjual.
"Hari ini belum satupun dagangan laku terjual. Kaos, sleyer dan topi utuh. Berbeda dengan pada hari biasa," keluh Toha salah satu penjual pernak pernik Gunung Bromo, saat dijumpai detiksurabaya.com, Kamis (7/2/2008)
Menurut Toha, akibat cuaca buruk yang terjadi sejak, Rabu malam menjadi salah satu penyebab tidak lakunya barang dagangannya.
Hal senada juga diungkapkan Miftahu, salah seorang pedagang lainnya. Dia mengaku hingga pukul 11.00 WIB, belum satupun pelancong yang mendatangi kiosnya. "Hujan turun sejak tadi malam. Jadi banyak pengunjung yang tidak membeli dagangannya," ujar pria asli Probolinggo.
Dari pengamatan detiksurabaya.com, awan tebal dan hujan gerimis masih memayungi kawasan Bromo dan sekitarnya. Bahkan akibat buruknya cuaca, pemandangan Gunung Bromo yang dilihat dari jarak 2 kilometer hampir tidak terlihat karena tertutup kabut tebal.
Akibat hujan yang terus mendera Bromo dan sekitarnya, udara di kawasan tersebut menjadi semakin dingin. Karena angin yang berhembus terasa semakin kencang bersamaan turunnya hujan gerimis. Bahkan badan yang sudah tertutupi jaket tebalpun masih merasakan dinginnya udara Bromo. (bdh/bdh)











































