Proses evakuasi panser amphibi yang dimulai sejak pukul 09.00 WIB, ternyata berjalan lancar tanpa ada gangguan cuaca serta gelombang besar, seperti hari sebelumnya. Untuk mengangkat panser tersebut, tim evakuasi hanya mengunakan dua buah balon milik Kopaska serta sebuah kapal untuk menyeretnya ke tepi pantai.
"Untuk mengangkat panser amphibi yang beratnya mencapai 4 ton itu, kita menggunakan dua balon yang berkekuatan masing masing 10 ton," kata Perwira Pelaksana Pangkalan Angkatan Laut Banyuwangi, Mayor IGPN Sedana saat dikonfirmasi wartawan di lokasi evekuasi Pantai Banongan.
Setelah balon diisi gas dengan kompresor dan berhasil mengangkat panser amphibi dari dasar laut, penarikan menuju darat menggunakan kapal Angkatan Laut (KAL) 'Mustaka' milik Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Banyuwangi.
Namun, karena KAL 'Mustaka' tidak mampu mencapai bibir pantai, maka proses evakuasi selanjutnya dilakukan dengan mengunakan dua unit panser amphibi TNI AL yang masih berada di Puslatpur Banongan.
"Proses ini lebih cepat dari rencana, sebab dalam proses mengangkat panser itu hanya butuh waktu satu jam. Panser yang tenggelam itu baru berhasil kita evakuasi ke darat sekitar pukul 11.35 WIB," ujar Sedana.
Sedana menambahkan, panser amphibi yang telah berhasil dievakuasi ke darat tersebut selanjutnya akan dibawa ke markas marinir di Surabaya. "Yang jelas tim sudah berhasil mengangkatnya, sedangkan proses selanjutnya itu urusan mabes," tegasnya.
Panser Amphibi yang berisi 14 anggota marinir itu karam saat melakukan latihan perang Armada Jaya ke-27 di Pantai Banongan, Situbondo, Jawa Timur, Sabtu 2 Februari 2008 lalu. Akibat kejadian ini 7 anggota marinir tewas dan 7 anggota lainnya selamat.
Foto: Panser Amphibi yang karam berhasil dievakuasi dari dasar laut/Irwan Yulianto
(bdh/bdh)











































