"Kalau tahun 2007 hanya 4 kecamatan, maka di awal tahun ini jumlah endemis flu burung bertambah 8 kecamatan," kata Kasi Kesehatan Masyarakat Dinas Peternakan Kabupaten Mojokerto, Trisnanto, kepada detiksurabaya.com, Jumat (1/2/2008).
Menurut Trisnanto, penetapan status endemis flu burung, berdasar banyaknya kasus positif flu burung pada unggas dan manusia selama tahun 2007. Bahkan 2 warga Mojokerto, yaitu Siti Nur Aini (20) dan Wetono Hadi (39), meninggal akibat flu burung.
"Status endemis sebanyak 8 kecamatan. Tapi hampir semua kecamatan di Kabupaten Mojokerto berstatus risiko tinggi, karena menjadi alur lalu lintasĀ unggas," kata Trisnanto yang ditemui detiksurabaya.com di Kantor DinasĀ Peternakan di Jalan Raya Brangkal, Mojokerto.
Kecamatan itu yaitu Kecamatan Sooko, Jetis, Puri, Bangsal, Jatirejo, Kemlagi, Mojosari dan Kecamatan Pungging. Dari 8 kecamatan itu, jumlah desa terbanyak yang dinyatakan endemis flu burung, ada di Kecamatan Kemlagi, dengan 4 desa.
Penetapan status endemis flu burung, sudah diketahui warga di Kecamatan Sooko. Di Desa Jampirogo misalnya, banyak warga yang mengetahui cara mengantisipasi penyebaran virus flu burung. Misalnya dengan cara membersihkan kandang secara rutin.
"Sama sekali kami tidak khawatir," ujar Suparlan (49), menjawab pertanyaan seputar ancaman virus flu burung terhadap peternakan unggas. Suparlan sendiri, memiliki
sekitar 40 ekor ayam yang ditempatkan di sebuah kandang, di belakang rumah.
Selain Desa Jampirogo, Desa Gemekan di Kecamatan Sooko juga ditetapkan berstatus endemis flu burung.
(fat/fat)











































