Kejadian yang terjadi sekitar pukul 15.00 WIB, Selasa (29/1/2008) itu menimpa keluarga Suratim (73) dan Paini (65). Saat kejadian, di dalam rumah juga terdapat anak, menantu dan cucu pasangan Suratim dan Paini, yaitu Suyati (37) dan suaminya Widodo (38), serta 2 anaknya Eka (2) dan Dimas (36 hari), dan Puryani (40) anak sulung Suratim.
"Ya tiba-tiba ada suara duarrr... sebanyak dua kali, setelah itu langsung kami tidak bisa melihat apa-apa lagi," cerita Puryani saat ditemui di rumahnya, Selasa (29/1/2008).
Diceritakannya pula, sesaat setelah kejadian dia dan seluruh penghuni rumah gemeteran dan tak bisa berbuat apa-apa. Hanya Widodo yang langsung tersadar dan langsung melihat Dimas yang sadang tertidur di kamar depan. Saat dilihat, Dimas sudah terbangun dan menangis serta bagian dahinya luka robek terkena pecahan kaca.
Dimas langsung dilarikan ke seorang bidan desa di Desa Doko, Kecamatan Gampengrejo untuk mendapatkan perawatan.
"Untung Dimas waktu itu tidur ditutupi dengan tudung, jadi tidak sampai terkena banyak pecahan kaca dan runtuhan genteng," lanjutnya.
Pantauan detiksurabaya.com lokasi kejadian menunjukkan, hampir seluruh bagian rumah hancur. Genteng bagian depan, plafon, serta kaca-kaca jendela juga hancur berantakan. beberapa alat elektronik seperti sebuah televisi dan tape compo juga hangus terbakar.
"Kami nggak tahu kenapa bisa sampai tersambar petir, padahal semua alat listrik sudah kami cabut," kata Paini sambil menangis sesenggukan.
Kejadian sambaran petir ini bukan hanya mengakibatkan rumah pasangan Suratim dan Paini hancur berantakan beserta seluruh isinya. 2 Penghuni lain juga terlihat mengalami luka dan mengalami shock berat, yaitu Widodo yang mengalami sedikit luka bakar di bagian bawah mata kanan, dan suyati yang hingga kini terus gemetaran dan sulit diajak bicara. (bdh/bdh)










































