Demonstran berasal dari aktifis Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sunan Giri Bojonegoro. Aksi yang diawali dengan long macrh ini dilakukan dengan menutup mulut dengan plester lakban serta menggelar sejumlah poster dan
spanduk.
Diantaranya bertuliskan, "Pejabat Wetenge Jemblung, Rakyat Podo Kembung", "Dewane Mbisu, Rakyate Lesu", "Kamu Wakilku, Jangan Hianati Aku".
"Anggota dewan sibuk ikut rebutan kekuasaan dalam Pilkada, jadinya pembangunan terbengkalai. Mana kepedulian kalian pada rakyat pemilih?" teriak Muslimin, juru bicara aksi dalam orasinya dihadapan beberapa anggota DPRD Bojonegoro yang menemui di halaman gedung DPRD, Senin (28/1/2008).
Mahasiswa memprotes beberapa proyek besar yang didanai uang rakyat tapi tidak jelas kelanjutannya. Seperti proyek rumah sakit tipe-B dan pasar raya yang mandek. Juga terbengkalainya jalan poros desa dan kecamatan yang rusak, kurangnya porsi anggaran pendidikan, sampai tidak seriusnya pemulihan kondisi sosial dan ekonomi para korban banjir.
Aksi tutup mulut mahasiswa ini hanya ditemui oleh beberapa anggota DPRD yang kebetulan sedang jadwal piket. Bukannya dalam sebuah rapat dengar pendapat, namun pertemuan hanya dilakukan di halaman gedung DPRD dan berlangsung sangat singkat.
"Lembar tuntutan ini kami terima, dan akan kami teruskan pada pimpinan dewan. Semoga kedepan Bojonegoro lebih baik," jawab singkat Waluyo, anggota DPRD Bojonegoro dari Fraksi PAN didampingi beberapa legislator lainnya.
Mahasiswa pengunjuk rasa lalu meninggalkan gedung DPRD dengan kecewa. Namun, mereka tetap melanjutkan aksi tutup mulut dengan long march dan membagikan selebaran berisi seruan moral. Yaitu agar masyarakat ikut menjadi pengontrol kebijakan pemerintah daerah yang cenderung kurang peka terhadap kebutuhan rakyat. (bdh/bdh)











































