Di kawasan itu, terdapat lebih dari 20 penjual minyak 'Irek', yaitu minyak tanah yang dijual untuk dicampur dengan cairan tertentu, sebagai bahan bakar pengganti solar. Meski berupa minyak tanah murni, namun dijual seharga Rp 50 ribu/18 liter.
Minyak tanah itu akan dicampur dengan oli pelumas atau minyak goreng oleh pembeli. Dengan kualitas yang tidak jauh beda dengan solar, harga minyak 'Irek' lebih murah, sehingga disebut Irek, kependekan dari Irit dan Ekonomis.
"Sopir truk-truk besar banyak yang beli minyak ini," kata Kepala Disperindag Kabupaten Jombang, Jakfar Jazuri saat dihubungi detiksurabaya.com, Jumat (25/1/2008) .
Timbunan minyak tanah yang ditemukan lebih dari 2 ribu liter. Minyak tanah bersubsidi itu sudah dimasukkan ke dalam sekitar 175 jeriken. Setiap jerigen berisi 18 liter yang siap dijual ke para sopir truk besar antar kota.
Jazuri menambahkan, banyaknya penjualan minyak tanah bersubsidi untuk bahan bakar kendaraan, menyebabkan kelangkaan minyak tanah.
Penjual Minyak 'Irek', Suyoto (49), membantah menjual Minyak Irek apalagi minyak oplosan. "Saya tidak menjual minyak oplosan, tapi hanya menjual minyak tanah," kata Suyoto.
Meski menemukan minyak tanah bersubsidi ditimbun dan disalahgunakan, tapi petugas Disperindag Kabupaten Jombang hanya memberi peringatan. Jika masih berjualan dalam 2 hari mendatang, para penjual akan dilaporkan ke polisi. (bdh/bdh)











































