Pengusaha Kerupuk Merugi, Pekerja Minta Upah Naik

Pengusaha Kerupuk Merugi, Pekerja Minta Upah Naik

- detikNews
Kamis, 24 Jan 2008 09:33 WIB
Mojokerto - Kenaikan harga sejumlah bahan kebutuhan pokok, berdampak langsung bagi para pelaku usaha kerupuk di Mojokerto.

Para pengusaha merugi sebab harga jual kerupuk tidak ikut naik, sementara para pekerja menuntut kenaikan upah, karena biaya kebutuhan hidup juga naik.

"Saya dan teman-teman pernah meminta upah dinaikkan, tapi pengusaha tidak bisa. Terpaksa kami tetap bekerja karena tidak ada pekerjaan lain," kata Wawan Hidayat (25), salah pekerja di tempat pembuatan kerupuk di Desa Setoyo, Kecamatan Puri, kepada detiksurabaya.com, Kamis (24/1/2008).

Bekerja sejak pukul 07.00 WIB pagi hingga 16.30 WIB sore, setiap pekerja hanya mendapat upah sebesar Rp 12 ribu hingga Rp 20 ribu saja. Upah sebesar itu, dirasa para pekerja tidak cukup untuk menghidupi keluarga di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok.

Namun tuntutan para pekerja, tidak bisa dipenuhi pengusaha. "Saya katakan ke para pekerja, untuk saat ini belum bisa menaikkan upah. Sebab usaha ini tidak gulung tikar saja sudah sangat beruntung," kata pengusaha kerupuk, Muhammad Fakih (31).

Usaha yang dikelola Fakih, merupakan 1 dari 53 tempat pembuatan kerupuk yang masih bertahan. Sepekan lalu, menurut Fakih, di Kabupaten Mojokerto terdapat sekitar 173 tempat pembuatan kerupuk.

"Karena harga terus naik, sebagian tutup sementara," kata Fakih.

Menurut Fakih, agar usahanya tidak tutup sementara atau mengurangi jumlah pekerja, maka volume bahan baku kerupuk dikurangi, dengan cara mengecilkan ukuran. Kualitas tepung juga diganti dengan tepung berkualitas sedikit lebih rendah.

Dalam sehari, tempat usaha ini menghabiskan 3,5 kwintal tepung, 50 kilom minyak goreng, dan 8 liter minyak tanah, serta 2 tumpuk kayu bakar.

Namun belakangan ini, harga tepung senilai Rp 180 ribu per zak dan minyak goreng senilai Rp 10 ribu perkilo. (fat/fat)
Berita Terkait