Menurut anggota Hindu Majapahit, Naram (57), sehari sebelumnya, tempat dan bangunan tersebut masih tertata rapi. "Saat Saya ke sini pagi tadi, arca dan bangunan suci sudah rusak," kata Naram kepada detiksurabaya.com saat di lokasi.
Tempat berdoa Hindu Majapahit tersebut, berada di tengah persawahan. Di tempat itu, terdapat dua bangunan, yaitu bangunan Padmasana dan Panglurah. Letak kedua bangunan sederhana itu bersebelahan dan hanya berjarak sekitar 5 meter.
Kedua bangunan tersebut porak poranda dan tinggal puing-puing saja. Termasuk relief Dewa Wisnu dan Garuda Wisnu Kencana.
"Silakan dirusak atau dihancurkan. Ini hanya simbol saja. Yang penting iman kami tetap ada selamanya," jelas Naram.
Warga sekitar tidak mengetahui perusak bangunan yang baru didirikan pada 22 Desember 2007 lalu. "Kami tidak tahu siapa perusaknya. Tapi sebelumnya ada organisasi keagamaan, menuntut tempat itu dibongkar. Mereka memberi waktu tiga hari untuk membongkar tempat ibadah itu," kata salah satu warga Desa Temon, Sutarman (37).
Kepala Desa Temon, Ahmad Zaini mengaku tidak tahu menahu pelaku yang membongkar bangunan peribadatan Hindu Majapahit tersebut. Kasus ini sudah dilaporkan ke Polsek Trowulan untuk ditindak lanjuti. (fat/fat)











































