Mereka mengeluhkan semakin membengkaknya biaya produksi, bila sebelumnya mereka membeli minyak goreng dengan harga Rp 8.500 kini naik menjadi Rp 10.500 per kilogram (kg). "Setiap hari rata-rata menghabiskan minyak goreng hingga 30 kg," kata Deny Susanti salah seorang pengrajin, Selasa (22/1/2008).
Namun, dengan kenaikan harga minyak goreng ini para pengrajin tidak akan menaikkan harga jual ke konsumen. Alasannya, sebulan yang lalu mereka baru menaikkan harga jual karena kenaikan harga kedelai. "Kalau dinaikkan lagi, khawatir pelanggan dan konsumen lain pada lari," terangnya.
Setiap hari jumlah produksi kripik tempe milik Deny mencapai 40 kg, produknya dipasarkan di sekitar Malang dan sejumlah kota di Jawa Timur. Setiap hari pengrajin tempe yang mempekerjakan 8 tenaga kerja ini mendapat keuntungan sekitar Rp 100 ribu. Namun, kini berkurang hingga tinggal Rp 60 ribu, akibat biaya produksi membengkak.
Kawasan Sanan merupakan sentra pengrajin tempe di Kota Malang terdapat lebih dari 600 pengrajin. Akibat kenaikan kedelai, kini hanya tersisa 60 persen yang rutin berproduksi. Keripik tempe merupakan makanan khas Malang yang dijadikan produk oleh-oleh khas Malang. (bdh/bdh)










































