Cuaca Buruk, Migor Curah di Sumenep Capai Rp 11 Ribu

Cuaca Buruk, Migor Curah di Sumenep Capai Rp 11 Ribu

- detikNews
Sabtu, 19 Jan 2008 09:02 WIB
Sumenep - Kenaikan harga minyak goreng (migor) curah di wilayah Kepulauan Masalembu, Kabupaten Sumenep mencapai Rp 11 ribu perkilo.

Tingginya harga migor curah ini disebabkan keterbatasan perindustrian akibat cuaca buruk di Perairan Sumenep. Selama sebulan tidak ada satu pun alat transportasi laut ke Perairan Sumenep.

Apalagi, kapal perintis milik Pemprov Jatim tidak beroperasi setelah habis masa kontraknya per 30 Desember 2007 lalu.

Dari pantauan detiksurabaya.com, pedagang di Pasar Masalima, Kecamatan Masalembu, Sabtu (19/1/2008) menjual migor curah mencapai Rp 1.000 perkilo.

Sedangkan harga kebutuhan sembilan bahan pokok (sembako) lainnya juga mengalami kenaikan. Yakni mencapai 10 hingga 15 persen dari harga normal.

Salah seorang pedagang migor curah yang kepada, H Kamaluddin (35) menyebutkan, sejak sebulan terakhir pasokan migor tidak ada.

Para pedagang hanya menjual sisa-sisa stok. Itupun harganya sudah melangit. "Pedagang tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau sudah stok menipis dan kebutuhan meningkat, pasti hukum pasar berlaku," ujarnya sembari melayani pembeli kepada detiksurabaya.com.

Kebiasaan masyarakat Masalembu, kata da, tidak membeli migor dengan bilangan kilogram, melainkan memakai botol. Satu botol itu seharga Rp 5.500 dan botol yang lebih besar Rp 7 ribu.

"Jika ukuran kilogram, kira-kira perkilo-nya mencapai Rp 11 ribu," jelasnya.

Menurut dia, meski masyarakat mengeluh dengan tingginya harga migor curah, namun sebagian memaklumi karena keterbatasan pasokan akibat tidak adanya transportasi laut.

"Untuk saat ini, perahu layar motor (PLM) juga tidak mungkin melakukan pelayaran karena ketinggian ombak mencapai 2 meter," tegasnya.

Sementara, Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat Pusat Pelacakan Informasi Masyarakat Sumenep (LSM Puslimas), Maktub Syarif meminta pemerintah daerah segera melakukan upaya kongkrit agar harga kebutuhan pokok di sejumlah kepulauan tidak terlalu melambung dan menyengsarakan masyarakat.

"Tidak ada jalan lain kecuali pemerintah mencari solusi cerdas agar stok migor dan kebutuhan lainnya bisa stabil di kepulauan," kata Maktub yang ditemui di salah satu hotel Jalan Trunojoyo Sumenep.

Sumenep yang mempunyai 125 pulau, jelas dia, akan mengalami hal serupa saat cuaca tidak bersahabat. Apalagi tidak ada kapal yang melayani pelayaran khususnya ke Masalembu dan Kepulauan Sapeken. (fat/fat)
Berita Terkait