Ketika dibawa ke RS, kedua balita itu dalam kondisi kritis. Berat badan Zannuba yang berasal dari Desa Patemon Kecamatan Arjasa hanya 8 kilogram dengan badan bengkak dan kulit mengelupas. Â Sedangkan berat badan Noval yang berasal dari Desa Ponjen Kecamatan Kencong hanya 5,3 kilogram. Riwayat tumbuh kembang kedua bayi itu hampir sama, yakni tidak mau mengkonsumsi ASI dan kurang asupan gizi.
Menurut Ibu Zannuba, Reni, anaknya berhenti minum ASI sejak umur 4 bulan, kemudian hanya diberi air gula. Sedangkan Noval sejak enam bulan lalu juga sudah tidak mau minum ASI.
"Dia tidak mau minum ASI. AKhirnya hanya diberi air gula dan tajin," kata Bambang, ayah Noval, Jum'at (18/1/08). Selain menderita gizi buruk, Noval juga mengidap kelainan jantung.
Tim dokter di RSUD dr Subandi saat ini masih mengawasi kedua bayi itu dengan ketak. Keduanya masih masuk dalam fase rehabilitasi untuk meningkatkan kualitas gizi di tubuh mereka.
"Saat ini fase rehabilitasi karena kondisi mereka kritis. Apalagi Zannuba itu kulitnya mengelupas, kita awasi jangan ada infeksi pada kulitnya," kata dokter anak RSUD dr Subandi, dr Ahmad Nuri.
Dalam bulan Januari ini, RSUD dr Subandi telah merawat 4 pasien gizi buruk. (bdh/bdh)










































