50 Persen Pengusaha Tahu di Bojonegoro Gulung Tikar

50 Persen Pengusaha Tahu di Bojonegoro Gulung Tikar

- detikNews
Rabu, 16 Jan 2008 14:29 WIB
Bojonegoro - Usai diterjang banjir, warga Bojonegoro kembali diterpa musibah dengan kenaikan harga kedelai yang meroket. Akibatnya hampir 50 persen pengusaha tahu di kota calon minyak itu gulung tikar.

Harga kedelai yang beredar di Bojonegoro sekarang berkisar Rp 7.200-7.600 per kg, melonjak drastis dibanding 2 pekan lalu yang hanya Rp 6.500 per kg. Sedangkan harga minyak goreng curah yang sebelumnya Rp 7.000 per liter, kini menjadi Rp 9.500 per liter.

Kenaikan harga bahan baku pembuat tahu ini menyebabkan para pengrajin tahu kelimpungan. Dari sekitar 110 pabrik tahu di Kelurahan Ledok Kulon, Bojonegoro, saat ini hanya tinggal sekitar 50 pabrik yang masih berproduksi. Mereka pun terpaksa memberhentikan sebagian karyawan demi efisiensi biaya produksi.

"Saya tidak buat tahu sejak akhir Desember karena pabrik saya tenggelam oleh banjir. Sekarang banjir sudah surut dan saya mau buka pabrik lagi tapi ternyata harga kedelai dan minyak mahal sekali. Terpaksa pabrik saya tutup saja," ujat Ngapiah seorang pengrajin tahu Ledok Kulon saat ditemui detiksurabaya.com di rumahnya, Rabu (16/1/2008).

Berbeda dengan Ngapiah, Rustam salah seorang pengrajin tahu lainnya mengaku tetap bertahan dengan mengerjakan sendiri produksi tahunya. 3 Orang karyawannya terpaksa diberhentikan sementara, sehingga Rustam mengolah sekitar 30 kg kedelai menjadi tahu dengan dibantu istri dan seorang anaknya.

"Hanya ini nafkah keluarga saya turun-temurun. Kalau tidak membuat tahu, ya tidak bisa makan. 2 Hari lalu saya terpaksa jual sapi untuk modal kulakan kedelai dan minyak goreng," kata Rustam sambil menggoreng tahu dengan bertelanjang dada.

Lantaran bahan baku tahu mahal, para pemilik home industri terpaksa menyiasati pembuatan tahu produksi mereka dengan ukuran lebih kecil tanpa menaikkan harga. Harga jual tahu rata-rata tetap Rp 1.500 per 10 biji tahu. Namun akibatnya, banyak tahu menjadi tidak laku dan dikembalikan lagi ke pabrik.

Sementara Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Bojonegoro masih berupaya membantu tersedianya pasokan bahan baku pembuat tahu dan tempe seperti kedelai dan minyak goreng. Tapi upaya ini belum mengarah pada program operasi pasar (OP). (bdh/bdh)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini