Hal ini mengakibatkan pasokan minyak tanah ke pangkalan minyak tanah milik Suratin (45) Warga Desa Ngantru Kecamatan Ngantru Kabupaten Tulunggagung habis lebih cepat.
Meski masuk wilayah di Tulungagung dalam beberapa minggu terakhir banyak pembeli berasal dari blitar yang membeli ke pangakalannya. Menurut Suratin biasanya dalam seminggu pangkalannya mendapatkan pasokan minyak tanah dari pertamina sebanyak 4 kali dengan jumlah setiap kiriman sebanyak 5000 liter.
Namun dalam satu kali pasokan, minyak tanah tersebut langsung habis dalam 3 jam saja. Padahal pada hari normal minyak tanah tersebut baru akan habis dalam waktu 3 hari. "Karena banyak pembeli dari luar daerah, akhirnya dalam sekejap minyak pun lenyap," jelasnya pada detiksurabaya.com Selasa (15/1/2008).
Kondisi ini diperparah dengan terlambatnya pasokan minyak tanah dar pertamina sehingga minyak tanah dipangkalannya sering kosong. Kondisi ini berlangsung sekitar sebulan terakhir apalagi sering ada hari libur sehingga pertamina juga libur. Meski kondisi minyak tanah langka, dirinya tidak pernah menaikkan harga yang dipatok sebesar Rp 2350 per liter namun membatasi pembelian maksimal 20 liter per jerigen.
"Ini kita lakukan agar pembagiannya merata, karena banyak warga yang ingin melakukan aksi borong untuk mengantisipasi naiknya harga," ungkapnya. Sementara itu ditemui ditempat yang sama Rustamono (35) pengecer minyak tanah asal Desa wonodadi Kecamatan Wonodadi Kabupaten Blitar mengaku sejak seminggu terakhir pasokan minyak tanah ditempatnya tidak datang.
Sehingga karena minyak tanah merupakan kebutuhan warga sehari-hari dirinya akhirnya nekad membeli minyak ke daerah Tulungagung yang jaraknya sekitar 20 kilometer. "Nantinya saya jual lagi sebesar Rp 2500 perliter ,itu saja untungnya sedikit karena jarak tempunya cukup jauh apalagi kalau sampai pangkalan kehabisan kita malah rugi," tuturnya. (gik/gik)











































