Peringatan ini dilatarbelakangi karena pada musin tanam sebelumnya banyak petani di Ponorogo, Jatim yang mengeluhkan peredaran pupuk palsu. Sehingga menyebakan petani merugi akibat menggunakan pupuk palsu.
"Ketergantungan yang tinggi terhadap pupuk kimia menjadi salah satu peluang beredarnya pupuk palsu," kata Supriyanto, Senin (14/1/2008) pada detiksurabaya.com.
Menurutnya, pupuk palsu itu dijual dan dikemas seperti halnya pupuk asli. Ia mencontohkan kandungan pupuk tersebut biasanya dicampur dengan garam atau belerang.
"Apabila digunakan maka tanaman akan layu, kemudian mengering dan mati," ujarnya.
Dia menegaskan semakin lama pembuatan pupuk palsu semakin canggih, baik warna ataupun bentuknya akan menyerupai dengan pupuk yang asli.
Untuk mencegah peredaran pupuk palsu dipasaran, pihaknya, tegas Supriyanto akan menambah jumlah persediaan pupuk bagi petani. Jika sebelumnya disiapkan 29 ribu ton kini ditambah menjadi 30 ribu ton.
Secara khusus dia mengaku tidak bisa mengawasi peredaran pupuk palsu di tingkat petani. Karena tanggung jawab pendistribusian pupuk adalah wewenang Dinas Perindustrian dan Perdagangan.
"Tapi kami tetap akan terus memantau peredaran pupuk palsu di lapangan," janjinya. (bdh/bdh)










































