Ini dikarenakan penyebab utama bajir Sungai Bengawan Solo masuk ke pemukiman penduduk, karena kondisi bangunan tanggul yang kurang layak.
Panjang kedua sisi tanggul mulai Cepu sampai Babat melalui Bojonegoro adalah 103 Km, dengan nilai anggaran sebesar Rp 1,2 triliun. Namun, rencana proyek ini baru sebatas usulan dari Balai Besar Sungai Bengawan Solo pada Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).
"Kami sudah usulkan proyek Retarding Basin (Rawa) Jabung ini pada Bappenas, tapi belum disetujui. Karena menyangkut dana APBN yang nilainya cukup besar, yaitu Rp 1,2 triliun," kata Kepala Balai Besar Sungai Bengawan Solo Provinsi Jawa Timur, Agus Imam Nugroho pada detiksurabaya.com saat mendampingi Gubernur Jatim, Imam Utomo meninjau lokasi pengungsian korban banjir di Kelurahan Ngrowo, Bojonegoro kota, Selasa (8/1/2008).
Retarding Basin (Rawa) Jabung ini sebuah waduk penampung kelebihan air dari sungai yang berpotensi meluapm seperti Bengawan Solo. Pembangunan dan perbaikan tanggul diprioritaskan pada aliran sungai antara Cepu-Bojonegoro-Babat.
Sebab, pada jalur itu belum terdapat tanggul permanen. Hanya 'tanggul rakyat' yang terbuat dari gundukan tanah tanpa dinding beton di kedua sisi sungai.
"Kita sedang mengupayakan perbaikan tanggul, biar tidak jebol seperti kemarin itu. Tapi untunglah sekarang banjir mulai surut. Bapak-ibu harus sabar, saling membantu tetangga yang sedang kesusahan," imbau Gubernur Imam Utomo di hadapan warga Kelurahan Ngrowo, Bojonegoro yang masih dalam pengungsian.
Imam Utomo juga menyinggung tentang rencana perbaikan tanggul dan pembangunan Rawa Jabung di kawasan hilir sungai Bengawan Solo. Program ini adalah proyek besar yang melibatkan 2 provinsi, yaitu Jawa Tengah dan Jawa Timur, yang dialiri oleh Bengawan Solo sebagai sungai terpanjang di Pulau Jawa. (fat/fat)










































