Usir Dukun Santet, Warga Situbondo Ngluruk Mapolsek

Usir Dukun Santet, Warga Situbondo Ngluruk Mapolsek

- detikNews
Selasa, 08 Jan 2008 12:45 WIB
Situbondo - Ratusan warga Dusun Karangsari, Desa Kilensari, Kecamatan Panarukan, Situbondo, Jatim, Selasa (8/1/2008), menyerbu Mapolsek Panarukan. Warga menuntut pengusiran Sutinah (55) yang dituduh sebagai dukun santet.

Sutinah, wanita renta yang saat itu sudah mengamankan diri di mapolsek dituding warga sebagai pemilik ilmu santet yang menyebabkan meninggalnya Muhammad (33) tetangga dekatnya.

Ratusan warga yang datang ke mapolsek sejak pukul 10.00 WIB, mengancam jika Sutinah tetap dilindungi dan tak segera beranjak dari perkampungan nelayan tersebut, maka massa akan merusak rumah Sutinah. Beruntung kedatangan ratusan warga itu segera diantisipasi dengan pengamanan puluhan personel gabungan dari Mapolres Situbondo.

"Pokoknya kami meminta polisi untuk meredam emosi warga dengan cara mengusir Sutinah dari Kampung Karangsari. Dialah penyebab kematian sejumlah warga dengan ilmu santet yang dimilikinya," kata Samirin (42) salah seorang warga di depan Mapolsek Panarukan.

Sutinah yang sehari-hari dikenal sebagai dukun pijat itu diamankan polisi di salah satu ruangan. Puluhan polisi terlihat berjaga-jaga agar massa tidak mendekati apalagi menerobos ruangan tempat Sutinah mengamankan diri.

Keterangan yang diperoleh menyebutkan, kemarahan warga itu dipicu oleh kematian Muhammad, Senin (7/1/2008) malam kemarin dengan penyakit yang dianggap aneh oleh keluarganya. Sebelumnya, Muhammad sempat dirawat di RSUD Situbondo selama sepekan.

Menurut dokter tidak ada penyakit apapun pada suami saya, makanya kami sepakat untuk membawanya pulang," ucap Hayati (30) isteri Muhammad, kepada detiksurabaya.com.

Menjelang kematian suaminya, ungkap Hayati, sang suami bercerita kedatangan mimpi Sutinah. Dalam mimpinya itu, ucapnya, Sutinah mengajak korban menyeret seekor anjing ke dalam rumahnya hingga Muhammad ditidurkan hingga lelap terkulai.

"Saya juga sempat meminta air kesembuhan kepada Sutinah saat menjelang ajal suami saya. Namun beberapa saat kemudian setelah menenggak air pemberian Sutinah, suami saya meninggal dunia dengan mulut mengelurkan busa," imbuh ibu beranak dua ini.

Kondisi itulah yang kemudian menyulut emosi warga serta kerabat dekat Muhammad yang lantas menuding kematian korban akibat disantet Sutinah. Selasa pagi, belasan warga mendatangi rumah Sutinah dan mengusir paksa nenek dengan sejumlah cucu itu agar segera hengkang dari kampung setempat.

Bahkan warga juga mengancam untuk merusak dan merobohkan rumah semi permanen milik keluarga Sutinah di perkampungan nelayan padat penduduk itu. Mengetahui jiwanya terancam itulah, akhirnya Sutinah bergegas kabur ke Mapolsek Panarukan untuk minta pengamanan.

"Kami akan melakukan musyawarah dengan keluarga kedua belah pihak yang melibatkan tokoh masyarakat dan tokoh agama. Ini bertujuan agar tidak terjadi aksi anarkis hingga menimbulkan konflik fisik maupun pengrusakan. Padahal kita sudah berulang kali memberikan penyuluhan terkait tudingan santet ini di Panarukan," jelas Kapolsek Panarukan, AKP Watiyo SH, kepada detiksurabaya.com.

Hingga berita ini diturunkan, kerumunan ratusan massa masih bertahan di Mapolsek, meski sebagian kalangan ibu-ibu sudah berangsur pulang ke rumah masing-masing. Untuk mengantisipasi imbas terburuk dari isu santet itu, sejumlah personel kepolisian ditempatkan di rumah Sutinah.
(bdh/bdh)
Berita Terkait