Kawasan Sanan merupakan daerah penghasil tempe terbesar di Malang, hampir 80 persen mereka bergantung hidupnya dari membuat tempe.
"Dari sekitar 600 produsen tempe, 40 persen lebih diantaranya tidak berproduksi. hingga Harga kedelai mencapai Rp 740 ribu per kwintal," jelas Chamdani, Wakil Ketua Primer Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Primkopti) Bangkit Usaha, Selasa (8/1/2008).
Demi menyambung hidup, para pengerajin kemudian beralih profesi menjadi peternak, tukang parkir, hingga kuli batu.
"Kami pasrah saja, menurut keterangan importir harga kedelai menyesuaikan dengan kenaikan harga minyak dunia selain itu juga terkendala cuaca buruk. Tapi persediaan kedelai juga terus ada," tutur Chamdani.
Padahal sebelumnya harga kedelai sekitar Rp 32 ribu per kwintal. Mereka sangat bergantung dengan kedelai impor, seluruh bahan baku tempe menggunakan kedelai asal Amerika Serikat. Pengrajin tempe di Kota Malang setiap hari membutuhkan kedelai sekitar 20 hingga 25 ton.
"Kita pernah memakai kedelai lokal tapi hasilnya tak sebagus kedelai impor. Tempe berbahan kedelai lokal cepat busuk," jelasnya.
Jika keadaan seperti ini terus berlangsung, maka para perajin tempe dan keripik tempe di Malang akan menghentikan kegiatan produksinya. Sementara agar tetap berproduksi sebagain pengrajin menyiasatinya dengan menaikkan harga. (fat/fat)










































