Rumah peninggalan suaminya yang terbuat dari anyaman bambu (gedek) ini separoh ambruk, gentingnya berterbangan dan atap rumahnya ambruk tertimpa pohon bambu yang terletak di samping rumahnya.
"Saat tahu rumah saya mau ambruk, dengan cepat saya langsung lari keluar," kata Satun sambil menahan isak tangis saat menceritakan peristiwa itu kepada detiksurabaya.com, Minggu (6/1/2008)
Kini Satun hanya bisa meratapi rumahnya yang sudah porak poranda karena di terjang keganasan puting beliung. Janda yang keseharian bekerja sebagai pembantu ini harus berjuang untuk membangun kembali rumahnya dan menghidupi anaknya yang masih duduk di bangku SMP.
"Saya tidak tahu lagi, mas... setelah ini mau apa," pungkasnya dengan sedih.
Karena rumah yang ditempati selama 28 tahun sudah tidak bisa ditinggali, Satun bersam ketiga anaknya kini harus mengungsi sementar ke rumah orangtuanya yang berada di desa yang sama.
Akibat sapuan puting beliung, Sabtu malam kemarin, sekitar 72 rumah di kawasan Krian, Keboharan dan Kemangsen banyak yang mengalami rusak parah. Selain memporak porandakan rumah warga, puting beliung juga mengakibatkan pohon-pohon dan tiang listrik bertumbangan.
Foto: Deni Prastyo
(dpr/bdh)











































