"Jika bukit ini benar-benar longsor, maka dipastikan hampir semua penduduk di desa ini akan terkena dampak langsung," kata Sunardi (47), anggota Badan Perwakilan Desa (BPD) Jarak Krajan, kepada detiksurabaya.com, Kamis (3/1/2008).
Menurut Sunardi, retaknya kawasan perbukitan Wonosalam di desa tersebut, diketahui warga sejak Selasa (1/1/2008) lalu. Setelah itu dilaporkan ke pemerintah kecamatan, termasuk Polsek dan Koramil Wonosalam.
Pihak BPD dan Pemerintah Desa Jarak Krajan, sudah mendata jumlah rumah yang diperkirakan terkena dampak langsung, jika longsor terjadi. Tercatat sebanyak 45 rumah tepat berada di atas retakan tanah tersebut.
Mengantisipasi kemungkinan terjadinya longsor, setiap turun hujan lebih dari 1 jam, warga yang rumahnya berada di atas retakan tanah, mengungsi ke balai desa atau rumah kerabat. "Kami siap diungsikan jika memang longsor terjadi," kata Sunardi.
Dalam 3 tahun terakhir, di Kecamatan Wonosalam, terjadi 2 kali longsor. Longsor pertama terjadi di Desa Pengajaran, pada 23 Januari 2006. Tidak ada korban jiwa saat itu, namun 55 kepala keluarga kehilangan harta benda dan rumah serta tempoat ibadah
hancur.
Longsor kedua terjadi di tahun 2007, tepatnya Minggu dinihari (4/2/2007), menghanyutkan 4 rumah dan merusak 35 rumah di Desa Mangirejo. Tidak ada korban jiwa akibat peristiwa tersebut.
(fat/fat)











































