RSUD Pelem Pare sebagai rumah sakit Pemerintah Kabupaten Kediri kewalahan menampung jumlah pasien yang terus mengalami peningkatan. Akibatnya, tak sedikit pasien yang harus berbagi tempat tidur atau bed, agar tetap mendapatkan perawatan intensif.
Hal itu juga berdampak pada terusirnya pasien lain yang bukan penderita DB. Mereka harus dirawat di lorong rumah sakit, karena prioritas perawatan diberikan kepada pasien penderita DB.
Pantauan detiksurabaya.com menunjukkan, dari total 25 bed ruang instalasi rawat inap anak-anak, semuanya telah ditempati pasien penderita DB.
Sedangkan pasien lain yang tidak mederita DB, seperti diare dan Ispa harus rela dirawat di lorong rumah sakit atau di ruang berbeda.
Suparti (42), ibunda dari Eri Tata Prasiska (5) dan Avika Agil Marcella (1), dua bocah penderita DB menuturkan, kedua anaknya terpaksa dirawat di satu bed karena ruang anak-anak sudah tidak mencukupi untuk menampung terus melonjaknya pasien DB.
"Yang besar sebenarnya mau dipindah ke ruang lain, tapi anaknya malah menangis terus. Ya terpaksa berbagi seperti ini," kata Suparti, saat ditemui di RSUD Pelem Pare, Kamis (3/1/2008).
Secara terpisah Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri, dr Adi Laksono menuturkan jika peningkatan jumlah pasien DB di bulan Januari dan Februari, saat itu curah hujan selalu tinggi sudah merupakan langganan.
Karena itu, Dinkes meminta warga masyarakat ekstra waspada dalam menghadapi tingginya curah hujan, yang berpeluang besar semakin mempercepat pertumbuhan nyamuk aedes aegipty.
"Saya minta warga selalu ekstra waspada dalam menghadapi tingginya curah hujan. Jaga kebersihan lingkungan dan jangan lupa untuk menggalakkan PSN," katanya.
Data yang berhasil digali detiksurabaya.com menyebutkan selama tahun 2007 jumlah penderita DB di Kabupaten Kediri mencapai 1.428 orang. Dari jumlah tersebut, dominasi pasien merupakan anak-anak di usia sekolah. Dari total jumlah penderita DB tersebut, 18 nyawa diantaranya melayang. (fat/fat)











































