Padahal keberadaan mereka sangat diperlukan dalam menangani situasi yang darurat ini. Namun pantauan detiksurabaya.com di beberapa lokasi banjir, tidak terlihat polisi maupun anggota TNI AD.
Pengalaman detiksurabaya.com meliput bencana, aparat negara ini biasanya selalu ada di tengah-tengah penanganan dan penanggulangan. Korban banjir pun akhirnya harus bersusah payah menyelamatkan dirinya sendiri dan dibantu tim SAR yang datang dari Surabaya.
"Iya ya kemana semua polisi dan tentara itu. Wong warga banyak yang memperlukan bantuan namun justru mereka tidak terlihat. Atau mungkin mereka juga sibuk mengungsi," kata Ny Iin, warga Desa Sumbang saat berbincang dengan detiksurabaya.com, Senin (31/12/2007) di sekitar alun-alun.
Selama meliput banjir 5 hari ini, yang terlihat hilir mudik justru para Tim SAR dari Basarnas, Kopaska TNI AL, Marinir dan relawan lainnya. Mereka hilir mudik sambil mengusung perahu dengan truknya untuk memenuhi permintaan warga yang daerahnya terendam. Dan kadang-kadang para tim SAR ini kerepotan menghadapi permintaan warga.
Sebab mereka tidak tahu detil kota Bojonegoro. "Saya bingung, warga minta di jalan ini harus dievakuasi, yang lain minta daerahnya juga. Tapi kita kan tidak tahu daerah-daerah sini kalau tidak ada guiden dari aparat lokal," kata seorang Tim SAR di depan STO Telkom Jl Diponegoro.
Bahkan di alun-alun, dua helikopter milik Basarnas yang mestinya harus dalam penjagaan ketat dibiarkan begitu saja. Sehingga dengan leluasa, para korban banjir yang mengungsi di sekitar alun-alun pun dengan bebasnya mendekat dan memegang helikopter.
Padahal, kondisi seperti itu sangat membahayakan mengingat peralatan atau instrumen heli sangat sensitif. Jika ada kerusakan akibat tangan jahil tentunya bisa membawa celaka mengingat heli tersebut dioperasikan untuk pendistribusian makanan ke lokasi banjir.
Komandan Basarnas Surabaya Letkol Trikora sangat menyayangkan tidak ada penjagaan di sekitar heli miliknya. "Koordinasi tadi semalam katanya mau dijaga, tapi Anda tahu sendiri kan saat ini," katanya.
Dibandingkan daerah lain dalam penanganan bencana, Bojonegoro bisa dikatakan tidak siap. Sebab terkesan tidak ada koordinasi satu sama lain. Posko Satlak Penanggulangan Bencana pun tidak terlihat kesibukan berarti.
Bahkan data-data update soal bencana tidak ada, kecuali hanya informasi ketinggian air di papan ukur Karangnongko dan kota Bojonegoro.
(gik/gik)










































