Selama tinggal di pengungsian, warga tidak berbuat apapun. Mereka tidak bisa memasak atau melakukan aktivitas lain selain hanya berusaha menyelamatkan harta bendanya.
Toko-toko maupun pasar sudah tutup karena banjir. Pasar Induk Kota Bojonegoro misalnya. Hari ini sudah tidak ada lagi pedagang yang membuka usahanya.
Praktis di dalam kota, warga tidak bisa belanja apapun. Jika pun ada toko yang buka, mie instan dan roti sudah ludes terjual. Pantauan detiksurabaya.com, hanya ada tiga toko yang buka. Masing-masing di Jalan Diponegoro bagian utara dan Jalan Panglima Sudirman paling timur.
Warga yang hendak membeli makanan seperti kue maupun roti dan mie instan harus kecewa. "Kalau banjir tidak surut bisa kelaparan semua ini," kata Gito, warga Ledok Wetan yang mengaku bingung mendapatkan makanan.
Bahkan ada seorang ibu yang tinggal di Jalan AKBPM Soeroko nekat keliling naik becak untuk mencari telur. Dia berusaha ke rumah kenalannya yang belum terkena banjir namun toh hasilnya nihil.
Yang lebih ironis lagi terlihat di depan Pendopo Kabupaten Bojonegoro. Puluhan korban banjir berjubel di pintu gerbang selatannya. Mereka meminta mie instan yang ada di dalam pendopo. Memang di pendopo ini, pusat logistik disimpan, khususnya mie instan.
Namun petugas jaga menolaknya. "Maaf ibu, kami tidak bisa memberi karena ini sudah aturan. Besok pagi saja ke sini barangkali ada pembagian," kata seorang petugas kepada seorang ibu yang membawa dua anaknya yang masih keciil-kecil itu.
"Pak terus gimana dua anak saya ini? Mereka makan apa nanti. Kita nasi bungkus saja tidak dapat," balas sang ibu yang mengenakan baju dan celana warna pink tersebut.
Pengelola hotel pun juga resah. Lumpuhnya pasar membuat bahan baku mereka menipis. Di Hotel Griya Dharma Kusuma, makanan yang hanya bisa dipesan hanyalah nasi goreng. "Untuk pecel kita tidak ada. Karena pasar kebanjiran kita tidak bisa beli sayuran," kata seorang petugas hotel. Begitupula, hotel tidak lagi melayani pencucian baju karena minimnya air bersih.
Selain krisis makanan, warga juga disulitkan untuk mendapatkan air bersih. Satu unit kendaraan PMK yang membawa air bersih di Jalan Mas Tumapel, depan pendopo inipun diserbu. Sebab air bersih dan listrik di Bojonegoro telah mati.
Sementara helikopter terus meraung-raung hilir mudik di atas langit Bojonegoro. Heli ini bertugas mendistribusikan mie instan untuk korban banjir yang ada di luar kota. Foto: Pertokoan di dalam kota sudah tutup (gik/gik)











































