Meski ada penurunan di Karang Nongko dibandingkan Pukul 01.00 WIB, di papan ukur kota ada trend kenaikan. Pada Pukul 07.00 WIB, Sabtu (29/12/2007) ketinggian air mencapai 16.04 pheilschaal. Dengan angka 16.15 maka status Bojonegoro adalah darurat.
Luapan Bengawan Solo hingga Sabtu (29/12/2007) Pukul 13.00 WIB sudah mengepung kawasan Pasar Induk, Jalan Imam Bonjol dan Jalan Pasar serta Trunojoyo. Banjir juga mulai menyentuh Jalan Mas Tumapel. Jalan ini adalah menuju ke pendopo kabupaten, dimana kawasan itu adalah tempat kantor bupati dan juga tempat Rumah Dinas Bupati Santoso.
Banjir di Jalan Imam Bonjol juga mengepung Kantor Mapolwil Bojonegoro dan Kantor Perhutani. Airnya terlihat cukup deras dan begitu cepat meluas. Titik-titik yang aman air juga sudah mulai tergenangi. Air juga sudah mulai meluber ke jalan tengah taman alun-alun, namun belum besar.
Sementara jalan - jalan protokol seperti Jalan Diponegoro, Pattimura, KH Mansyur, TP Mastrip, HOS Tjokroaminoto, MT Haryono, Panglima Sudirman, Rajekwesi, Imam Bonjol, Panglima Polim, Jaksa Agung Suprapto, Hayam Wuruk dan Rajawali juga masih terendam air. Karena banjir mulai mengekepung dan masuk kota, para pedagang memilih tokonya ditutup karena kuatir tokonya terkena terjangan banjir.
Yang patut diwaspadai adalah tanggul di Utara Pasar Induk, sebab di tanggul-tanggul tersebut banyak titik kebocoran. Penyebab parahnya genangan air di jalan Imam Bonjol yang mengancam kantor bupati dipicu karena banyaknya tanggul yang dibuka oleh warga karena warga tidak ingin rumahnya tenggelam. Luapan airpun tidak bisa terbendung dan dengan deras ke Imam Bonjol dan Pasar Induk.
Pantauan detiksurabaya.com jika tidak ada penyusutan air akan sampai ke depan kantor bupati dan alun-alun. Jika ini sampai terjadi, praktis aktivitas perekonomian dan pemerintahan akan lumpuh. Sebab disekitar tersebut ada rumah sakit dan kantor-kantor swasta lainnya.
(wln/bdh)










































