Debit air pukul 10.50 WIB sudah mencapai skala 14,84 pheilschaal pada papan duga di Bengawan Solo ruas utara Pasar Kota, atau naik 14 strip dibanding pukul 02.50 WIB pada angka 14,70 pheilschaal.
Sedangkan debit air pada Dam Karang Nongko, Kecamatan Ngraho, sudah mencapai titik 31,09 pheilschaal. Artinya, terdapat potensi banjir susulan dari arah hulu Sungai Bengawan Solo ke Kabupaten Bojonegoro, Lamongan dan Gresik.
Begitu juga rendaman banjir pada pemukiman penduduk di daerah aliran sungai (DAS) juga makin tinggi, bahkan mencapai 1,5 meter. Temasuk kawasan pemukiman dalam tanggul di Kelurahan Ledok Wetan, Ledok Kulon dan Klangon, Kecamatan Bojonegoro Kota.
"Sudah biasa Mas, hampir tiap tahun juga banjir. Makanya warga sini membuat tanggul pada rumah masing-masing. Tapi tetap saja kemasukan air," tutur Rikana, warga Jl. Kapten Rameli, Ledok Wetan, Bojonegoro, pada detiksurabaya.com, Kamis (27/12/2007).
Sementara bencana banjir makin meluas, namun sejauh ini belum ada bantuan sembako bagi para korban maupun pendirian pos pengungsian dan dapur umum. Sebab, Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana dan Pengungsian (Satlak PBP) Pemkab Bojonegoro masih melakukan inventarisasi lokasi dan jumlah korban.
"Kami masih inventarisir korban, setelahnya baru kita beri bantuan. Sembako sudah siap kok, tinggal kirim saja!. 1 Unit perahu karet kami kirim ke Desa Kalangan, Kecamatan Margomulyo untuk evakuasi korban," kata Pujiono, Komandan Satlak PBP melalui telepon.
Menurut Pujiono, Kalangan adalah desa terpencil yang terisolir dari sarana transportasi darat. Maka pengiriman perahu karet diharapkan bisa memudahkan proses evakuasi korban banjir pada tempat penampungan sementara. (fat/fat)










































